Popular Posts

bahsul masail PB NU lengkap










jika INGIN file VERSI RAR LENGKAP BISA donlot DISINI


KEPUTUSAN BAHTSU AL-MASAIL SYURIYAH
NU WILAYAH JAWA TIMUR
DI PP NURUL JADID PAITON PROBOLINGGO
TGL 15-16 DZULHIJJAH 1399 H / 5-6 NOPEMBER 1979 M
 

Mas’alah

Pada saat ini banyak kegiatan arisan uang atau barang. Dalam perkembangannya terjadi suatau cara sebagai berikut :
A, B, dan C berarisan, A mendapat giliran menerima arisan tetapi ridlo haknya diterima oleh B yang juga anggota arisan, namun belum menerima arisan/giliran. Penyerahan hak secara suka rela dibarengi ganti rugi semacam jual beli hak, umpamanya :
Arisan sepeda motor memberi ganti rugi sebanyak Rp.15.000,- atau Rp. 25.000,-
Arisan uang sebesar Rp. 100.000,- memberi ganti rugi sebanyak Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 15.000,- sedangkan B masih punya hak giliran di lain waktu.
Pertanyaan :
            Bernama aqad apakah pergantian semacam ini?
Jawab :
Ala sabili al ihtiyat (menurut pendapat yang berhati-hati) aqad semacam itu termasuk aqad Qardlu jarro Naf’an (hutang dengan menarik keuntungan) yang hukumnya tidak boleh (haram) kecuali jika tidak ada janji dalam aqad (Fu al-sulbi al-aqdi).
Boleh dengan nama bai’ul Istihqoq.
Dasar pengambilan :
1.      Bughyatu Al-Mustarsyidin hal, 13
إِذِ اْلقَرْضُ الفَاسِدُ المُحَرَّمُ هُوَ اْلقَرْضُ المَْشْرُوْطُ فِيْهِ النَّفْعُ لِلْمُقْرِضِ, هَذَا اِنْ وَقَعَ فِي صُلْبِ القد، فان تواطأ عليه قبله ولم يذكر في صلبه او لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لخير غرض شرعي.
Artinya:
            Aqad utang piutang yang fasid (rusak) dab haram ialah menghutangi dengan janji pihak yang menghutangi mendapat keuntungan hal ini (haram) bila syarat tersebut masuk (ikut) dalam isi transaksi, jika syarat mendapat keuntungan itu berketepatan pada waktu sebelum terjadi transaksi dan waktu transaksi tidak menyebut-nyebut janji keuntungan bagi yang menghutangi, atau sama sekali tidak ada transaksi, maka hukumnya boleh disertai makruh sperti makruhnya segala rekayasa riba yang terjadi bagi selain tujuan syara’.
2.      I’anatu Al Tholibin, III : 20
(قوله: ومنه ربا القرض) أي ومن ربا الفضل: ربا القرض، وهو كل قرض جر نفعا للمقرض، غير نحو رهن. لكن لا يحرم عندنا إلا إذا شرط في عقده، كما يؤخذ من تصويره الآتي، ولا يختص بالربويات، بل يجري في غيرها، كالحيوانات والعروض.
Artinya:
            ( Diantaranya ialah riba qordi ) artinya: termasuk bagian dair riba fadli ialah qordli, yaitu setiap menghutangi yang mengambil untung/ manfaat bagi yang menghutangi, selain aqad gadai dan sesamanya haram, hal itu tidak haram menurut kita, kecuali jika keuntungan itu di ucapkan/di isyaratkan pada waktu transaksi (maka hukumnya haram),…….
3.      Al-Bajuri, I : 344
لم يكن هناك عقد – كمالو باع معاطاة وهو الواقع في أيامنا لم يكن ربا وان كان حراما لكن أقل من حرمة الربا.
Artinya:
            Jika disana (dalam syarat) tidak terjadi aqad (transaksi) seperti pada waktu jual beli dengan mu’athoh ( memberikan tanpa bicara), seperti yang terjadi saat ini, itu bukan riba, jika terjadi keharoman maka lebih sedikit dari pada keharoman riba.
4.      Fatawi Kubro, III : 23
والذي صرح به الأصحاب أن كل ما ابطل شرطه القد لا يضر إضمار نية فيه، وذكر صاحب الكافى أنه مع ذلك الإضمار هل يحل باطنا؟ وجهان قال : واصحهما يحل لحديث عامل خيبر.
Artinya:
            Sesuatu yang telah dijelaskan oleh santrinya imam syafi’I : apabila sesuatu syarat yang dapat membatalkan aqad (transaksi) itu tidak masalah, jika hanya tersimpan dalam hati (tidak masuk aqad) shohibu al-kafi menjelaskan jika hal itu terjadi ( menyembunyikan syarat dalam hati) apakah transaksinya secara batin dianggap halal? Ada dua pendapat, menurut yang ashoh adalah halal dengan dasar hadits tentang pengelola tanah (Nabi) di Khoibar.

Mas’alah:
Bagaimana hukumnya orkes dan samroh yang dipentaskan dimuka umum oleh kaum perempuan atau laki-laki dengan menampilkan cerita Nabi-nabi atau menari-nari?

Jawab:
            Hukumnya haram. Adapun samroh dan orkes, yang pementasannya dan menari didalamnya tidak terdapat mungkarat, maka hukumnya mubah. Sedangkan mungkarat yang dimaksud diantaranya:
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-Fiqhu ala Madzahibi Al-Arbaah, IV : 9
والمختر أن ضرب الدف ولأغانى التى ليس فيها ماينافى الآداب جائز بلاكراهة مالم يشتمل كل ذلك على مفاسد كترج النساء الأجنبيات في العرس وتهتكهن أمام الرجال والعريس ونحو ذلك والاحرم.
Artinya:
            Menurut qoul yang muhtar (terpilih) sesungguhnya memukul rebana melantunkan lagu-lagu yang tidak sampai meniadakan adab-adab adalah boleh, tidak makruh, selama tidak mengandung mafasid (kerusakan) seperti penampilan perempuan (mejeng) dihadapan laki-laki, dalam resepsi pernikahan dan memukaunya perempuan dihadapan laki-laki,resepsi pernikahan dan sesamanya,  kalau tidak berarti haram.
  1. Mirqotu Al-Suud (syarah sulamun At-Taufiq)
زمن معاصى الرجل ( التبختر فى المشي ) كالتمايل او تحريك اليدين على غير هيئة معتدلة او نحو ذلك.
Artinya:
            Termasuk maksiatnya kaki adalah ( sombong dalam berjalan) seperti lenggak-lenggok, atau menggerak-gerakkan tangan pada selain kondisi kebiasaan (kesederhanaan) atau sesamanya.
  1. Is’adu Al-Rofiq, I : 55
أتى بما يعد نقصا فى نفس رسول الله صلى الله عليه وسلم او نبي من الأنبياء المجمع عليهم حلقا وخلقا او فى نسبه كان يقول إنه عليه الصلاة والسلام ليس من قريش او فى صفة من صفاته.
Artinya:
            Mendatangkan sesuatu yang dapat mengurangi (merendahkan) martabat Nabi Muhammad Saw. Atau salah satu dari Nabi yang telah disepakati oleh ulama, tentang kenabiannya, seperti menghina tubuh, akhlaq atau Nasabnya, seperti mengatakan sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. Bukan keturunan Quraisy, atau menghina dalam agama atau sifat_Nya. (semua hukumnya haram).

  1. Al-Fatawi Kubro, I : 203
  2. Sulamu at-taufiq, hal: 13

Mas’alah:
  1. apakah imam Daud al-Dzohiri termasuk ahli sunnah wal jama’ah? Jika termasuk ahli sunah wal jama’ah, bolehkah bagi kita megamalkan madzabnya dalam nikah tanpa wali dan saksi? Apakah wajib had terhadapap orang yang melakukan bersetubuh dengan cara nikah menurut madzab Daud tersebut?
Jawab:
            Imam Daud Dzoriri termasuk ahli sunnah waljama’ah. Adapun nikah mengikuti madzabnya dengan tanpa wali dan saksi hukumnya tidak boleh.
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-Farqu Baina Al-Firoq, hal: 48.
ودخل هذه الجملة ( اى أهل السنة والجماعة ) جمهور الأمة وسوادها الأعظم من أصحاب مالك والشافعي وابى حنيفة والأوزاعى والثورى وأهل الظاهر.
Artinya:
            Masuk dalam golongan ini ( ahli sunnah waljama’ah) ialah : pembesar-pembesar imam, dan kelompok-kelompok mereka yang mayoritas, dari beberapa shabat/santrinya imam malik, imam syafi’I imam Auza’I, Sufyan Atsauri dam Ahli Al-Dzohiriyah ( Dawud Al-Dzohiriyah).
  1. Bughyatu al-Mustarsyidin, hal: 8
( مسألة شٍ ) نقل ابن الصلاح الإجماع على أنه لايجوز تقليد غير الأئمة الأربعة اى حتى العمل لنفسه فضلا عن القضاء والفتوى لعدم الثقة بنبستها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف والتبديل كمذهب الزيدية المنسوبين الى الإمام زيد بن على بن الحسين البسط رضوان الله عليهم.
Artinya:
            (masalah syin) imam ibnu sholah manukil ijma’ sesungguhnya tidak boleh taqlid/mengikuti selain kepada imam empat artinya sampai amal untuk dirinyapun tidak boleh. Apalagi untuk menghukumi, menfatwakan, karena tidak dapat dipertanggung jawabkan nisbatnya pada pemiliknya, dengan jalan yang mencegah, merubah dan mengganti, seperti madzab zaibidiyah yang dinisbatkan kepada imam zaid bin ali bin husain yang jadi cucu Rasul Ra.
  1. Tuhfatu Al-Murid Syarah Jauharu At_tauhid, hal: 90
ولايجوز تقايد غيرهم اى الأئمة الأربعة ولو كان من اكابر الصحابة لأن مذاهبهم لم تدون ولم تضبط كمذاهب هؤلآء لكن جوز بعضهم ذلك في غير الإفتاء.
Artinya:
            Tidak boleh taqlid kepada selain mereka yaitu imam –imam empat meskipun dari pembesar-pembesar sahabat Rasul. Karena madzab mereka tidak dikodifikasikan (tidak dikukuhkan) dan tidak dibuat pedoman seperti madzab-madzab mereka (imam empat); namun sebagian ulama’ ada yang memperbolehkan asal tidak untuk difatwakan.
  1. Mizan Al-Kubro, I : 50
  2. Al-Fawaidu Al-Janiyah, II : 204
  3. Fiqhu Islam oleh Syekh al_katib
  4. Tanwirul Qulub : 408
Adapun orang yang bersetubuh dari nikah ala madzab Daud Al-Dzohiri tersebut menurut qoul mu’tamad wajib di had.
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Fatawi Kubro, II : 107
( وسئل) هل يجوز عقد النكاح تقليدا لمذهب داود من غير ولى ولا شهودا اولا، واذا وطئ فهل يحد اولا .... الى ان قال فاجاب بقوله لايجوز تقليد داود فى النكاح بلا ولى ولاشهود، ومن وطئ فى نكاح خال عنهما وجب عليه حد الزنا على المنقول المعتمد.
Artinya:
            ( ibnu hajar ditanya) apakah boleh aqad nikah dengan tanpa wali dan saksi, mengikuti pendapat Dawud al-dzohiri? Dan ketika dia wati’ (hubungan badan) apakah terkena hukum had atau tidak ? dst. S/d…. ibnu hajar menjawab : tidak boleh mengikuti pendapat Dawud al-dzohiri dalam nikah tanpa wali dan saksi, barang siapa wati’ (berhubungan badan) atas nikah tanpa wali dan saksi wajib baginya di had (hukuman) seperti hukuman bagi pelaku zina sesuai pendapat yang mu’tamad.
  1. Kasyifatu al-Saja : 27



KEPUTUSAN BAHTSU AL-MASAIL SYURIYAH NU
WILAYAH JAWA TIMUR
DI PP. SALAFIYAH SUKOREJO ASEMBAGUS
TGL 16-17 JUMADIL ULA 1400 H/ 2-3 APRIL 1980 M
 

Mas’alah:
  1. Ada seorang pembeli sapi seharga Rp. 100.000, lalu dipeliharakan kepada orang lain dengan perjanjian : kalau nantinya sapi tersebut dijual, maka keuntungannya dibagi diantara pemilik sapi dan pemeliharanya. Kalau sapi tersebut betina lalu dalam perjanjian ditetapkan untuk membagi hasil anak sapi tersebut bila sudah beternak. Tetapi pemilik sapi tersebut bila suatu waktu ingin menjualnya sapi dalam keadaan belum berternak dan bagi hasil, tetap dilakukan dalam mas’alah yang pertama. Yang dimas’alahkan, hal tersebut termasuk aqad apa? Dan hukumnya sah atau tidak?

Jawab:
            Apabila yang dijanjikan itu adalah membagi keuntungan dari hasil penjualan (ribhi), maka hal itu termasuk qirod fasid, menurut ulama Tsalasah. Apabila yang dimaksud menyewa orang, dengan ongkos membagi hasil, maka dinamakan ijaroh fasidah, yang mempunyai sapi wajib memberi ongkos misil (umum) kepada orang tersebut (amil).

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-Muhadzab I : 392
فصل : وَلاَ يَصِحُ ( القِراَضْ ) إِلاَّ عَلَى اْلأَثْماَنِ وَهِيَ الدَّراَهِمُ وَالدَّناَنِيْرُ فَأَماَّ ماَ سِواَهُماَ مِنَ الْعُرُوْضِ وَالْعَقاَرِ وَالسَّباَئِكَ وَالْفُلُوْسِ فَلاَ يَصِحُ القِراَضُ عَلَيْهاَ.
Artinya:
            ( fasal ) : tidak sah Qirodl ( bagi hasil ) kecuali atas atsman ( yang bernilai ) yaitu, Dirham dan Dinar, adapun selain keduanya, seperti : benda, tanah, barang produksi, fulus (uang logam) maka tidak sah Qirodl (bagi hasil) atasnya.
  1. Al-Mizan, II : 88
قَالَ وَأَمَّا مَااخْتَلَفُوْا فِيْهِ ( القِرَاضِ ) فَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ مَالِكَ وَالشَّافِعِىِّ وَأَحْمَدَ : إِنَّهُ لَوْأَعْطَاهُ سِلْعَةً وَقَالَ لَهُ بِعْهَا وَاجْعَلْ ثَمَنَهَا قِرَاضاً فَهُوَ قِراَضٌ فاَسِدٌ مَعَ قَوْلٍ أَبِلا حَنِفَةَ إِنَّهُ قِراَضٌ صَحِيْحٌ، فاَلأَوَّلُ مُشَدَّدٌ وَالثَّانِ مُخَلَّفٌ.
Artinya:
            Adapun permasalahan yang dipertentangkan (Qirodl/bagi hasil) diantaranya pendapat imam malik, imam syafi’i dan imam ahmad : sesungguhnya bila seseorang memberikan harta benda dan berkata kepada penerimanya “ juallah ini dan hasilnya kau jadikan Qirodl”, maka itu dinamakan Qirodl fasid (bagi hasil yang rusak). Pendapat yang pertama adalah pendapat yang berat sedangkan yang kedua, adalah pendapat yang ringan.       
            Aqad tersebut tidak sah, sebab anak sapi itu bukan dari pekerjaan pemeihara tersebut.
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-Bujairimi ala iqna’ III : 115
( تَنْبِيْهٌ ) لوأعطى آخردابة ليعمل عليها أوليتعهدها وفوائدهالم يصح العقد، لأنه فى الأولى إيجار لدابة فلا حاجة إلى إيراد عقد عليها فيه غرر. والثانى الفوائد لاتحصل بعمله ولوأعطاها ليعملها من عنده بنفص درها ففعل ضمن له المالك العلف وضمن الآخر للمالك نصف الدار، وهو القدر المشروط له لحصله بحكم بيع فاسد. ولايضمن الدابة لأنهاغير مقابلة بعوض. وان قال لتعلفها بنصفها ففعل فالنصف المشروط مضمون على العالف لحصوله بحكم الشراء الفاسد دون النصف الآخر.
Artinya:
            (peringatan) jika seseorang memberikan hewan piaraanya kepada orang lain agar dipekerjakan, atau untuk dipelihara, dan hasilnya dibagi antara keduannya, maka aqad tersebut tidak sah. Karena pada contoh yang pertama menyewakan hewan, maka tidak ada hajat (tidak perlu) mendatangkan aqad lagi atas hewannya yang dapat mengandung ghoror/penipuan. Yang kedua, hasil dari hewan piaraan, itu bukan pekerjaan.
Seandainya seseorang memberikan hewan piaraannya kepada orang lain untuk dipekerjakan untuk dirinya dengan upah ½ dari hasil susu hasil perahnya, kemudian dipekerjakan oleh orang lain tersebut, maka pemilik hewan harus mengganti biaya pemeliharaan ( memberi makan hewan) dan pekerja harus mengganti kepada pemilik atas ½ dari hasil susu perahnya. Pengganti itu karena sudah hasil ukuran yang dijanjikan, dan telah terjadi dengan hukum jual beli yang rusak. dan tidak perlu mengganti rugi hewan piaraan, karena itu tidak ada kesesuaian ganti rugi.
Jika pemilki dalam menyerahkan hewan mengatakan untuk diramut (diberi makan) dengan ongkos separo hasilnya, kemudian dilaksanakan oleh penerima (pemelihara), maka separo yang dijanjikan menjadi tanggungan pemelihara, karena dianggap terjadi hukum pembeliaan yang fasid (rusak) bukan separo yang lain.


  1. Tuhfatu Al-Habib ala syarhi al-iqna, III : 179

وَلَوْ قَالَ شَخْصٌ لآخَرَ سَمَّنْ هَذِهِ الشَّاةَ وَلَكَ نِصْفُهاَ أَوْ هاَتَيْنِ عَلىَ أَنَّ لَكَ إِحْداَهُماَ لَمْ يَصِحَّ ذَلِكَ وَاسْتَحَقَّ أُجْرَةَ المِثْلِ لِلنَّصْفِ الذِّى سَمَنَّهُ لِلْماَلِكِ.
Artinya:
            Apabila ada orang berkata kepada orang lain : gemukkan kambing ini ! kamu saya beri komisi separo dari laba penjualan, atau berkata : gemukkan dua kambing ini! Kamu saya beri yang satu, maka tidak sah. Dan ia mendapat ongkos misil (umum), sedang hasilnya semua dimiliki yang punya kambing.
  1. Nihayatu Al-Zein, hal. 261                   

Mas’alah:
  1. Apakah kitab fiqhus sunnah dapat dipakai pedoman tahkim, seperti kita kitab fiqih lainnya yang mu’tamadad?
Jawab:
            Tidak dapat digunakan sebagai pedoman tahkim, kitab tersebut hanya dipakai sebagai penguat atau pelengkap hukun-hukum yang berlandaskan salah satu madzab empat bagi orang yang sudah mumarosahlil madzahibil arba’ah.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Bughyatul Mustarsyidun, hal. 7 
ونقل ابن صلاح عن الإجتماع أنه لايجوز تقليد غير الأئمة الأربعة الى ان قال ومن افتى بكل قول او وجه من غير نظر الى ترجيح فهو جاهل خارق للإجماع.
Terjemah:
            Ibnu sholah menukil dari ijma’ (kesepakatan para ulama’) sesungguhnya tidak boleh taqlid (mengikuti) pada selain imam empat. S/d kata-kata …. Barang siapa memberi fatwa dengan pendapat atau wajah (kasus hukum) dengan tanpa memandang atas tarjih (yang unggul) maka ia bodoh dan menentang terhadap ijma’/kesepakatan para ulama’.

Mas’alah:
            Shalat rebo wekasan dan rangkainnya, bagaimana hukumnya menurut fuqoha dan menurut ulama sufi?
Jawab:
            Menurut fatwa Roisul Akbar Almarhum Asyaikh Hasim Asy’ari tidak boleh. Shalat rebo wekasan karena tidak masyru’ah dalam syara’ dan tidak ada dalil syar’I. adapun fatwa tersebut sabagaimana dokumen asli yang ada pada cabang NU sidoarjo sebagai berikut:

Mas’alah:
  1. Kados pundi hukumipun ngelampahi shalat rebo wulan shofar, kasebat wonten ing kitab mujarobat lan ingkang kasebat wonten ing akhir bab 18?
فائدة اخرى : ذكر بعض العارفين من اهل الكشف والتمكين أنه ينزل كل سنة ثلاثمائة وعشرون ألفا من البليات وكل ذلك فى يوم الأربعاء الآخير من شهر صفر فيكون فى ذلك اليوم أصعب ايام السنة كلها فمن صلى فى ذلك اليوم اربع ركعات ..... الخ.
فونافا ساهى فونافا أوون؟ يعنى سنة فونافا حرام؟ أفتونا اثابكم الله؟
Terjemah:
            Sebagian orang yang ma’rifat dari ahli al-kasyafi dan tamkin menyebutkan: setiap tahun, turun 320.000 cobaan. Semuannya itu pada hari rabu akhir bulan shafar. Maka pada hari itu menjadi sulit-sulitnya hari di tahun tersebut. Barang siapa shalat di hari itu 4 rokaat dst.
  1. Kados pundi hukumipun ngelampai shalat hadiyah ingkang kasebat wonten ing kitab:
حاشية المهى على الستين مسئلة وونتن آخريفون باب يلامتى ميت وَنَصَّهُ: فَائِدَةٌ : ذَكَرَ فىِ نَزْهَةِ الْمَجاَلِسِ عَنْ كِتَابِ الْمُخْتاَرِ وَمَطَالِعِ الاَنْواَرِ عَنْ النَّبِى صلى الله عليه وسلم لا يَاْتِى عَلَى الْمَيَّتِ أَشَدُّ مِنَ اللَّيْلَةِ الأُلَى فَارْحَمُواْ مَوْتَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فِيْهِمَا فَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ وَإِلَهُكُمْ ... وَقُلْ هُوَاللهُ أَحَدْ اِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً وَيَقُولُ : الّلهُمَّ إِنِّى صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلاةَ وَتَعْلَمُ مَااُرِيْدُ. اللهم ابْعَثْ ثَواَبَها اِلَى قَبْرِ فُلان فَيَبْعَثُ الله مِنْ سَاعَتِهِ اَلَى قَبْرِهِ اَلْفَ مَلِكِ مَعَ كُلِّ مَلِكِ نُوْرٌ هَدِيَّةً يُؤَنِّسُوْنَةُ فِى قَبْرِهِ اِلَى اَنْ يُنْفَخَ فِى الصُّوْرِ وَيُعْطِىْ اللهُ المُصَلَّى بِعَددِ مَاطَلَعَتْ عَلَيهِ الشَّمْسُ أَلْفَ شَهِيْدٍ وَيُكْسِى أَلْفَ حُلَّةٍ. اِنْتَهَى وَقَدْ ذَكَرَنَا هَذِهِ الْفَائِدَةُ لِعُظْمِ نَفْعِهَا وَخَوْفاً مَنْ ضِيَاعِهاَ، فَيَنْبَغِى لِكُلِّ مُسْلِمٍ اَنْ يُصَلِّيْهَا كُلِّ لَيْلَةٍ لأَمْواَتِ الْمُسْلِمِيْنَ.
جواب:
بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على امور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم.
أورا وناع فيتواه, اجاء-اجاء لن علاكونى صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سوال, كرنا صلاة لورو ايكو ماهو دودو صلاة مشروعة فى الشرع لن اور انا اصلى فى الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كيا كتاب تقريب, المنهاج القويم, فتح المعين, التحرير لن سأفندوكور. كيا كتاب النهاية, المهذب لن إحياء علوم الدين, كابيه ماهو اورا انا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.
ومن المعلوم انه لوكان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها, والعادة تحيل ان يكون مثل هذه السنة, وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين. لن اورا وناع اويه قيتواه أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدى قال : ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة, لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القارى : لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرانية إلا من الكتب المداولة ( المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة وإلحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة. انتهى لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية : ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت ان نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلانى على البخارى : ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى
قال فى نيل الأمانى : ويحرم روايته أى على من علم او ظن انه موضوع سواء كان فى الأحكام أو فى غيرها كالمواعظ القصص والترغيب إلا مع بيان وضعه لقوله صلى الله عليه وسلم : من حدث عنى يرى انه كذب فهو أحد الكذابين وهو من الكبائر حتى قال الجوينى عن أئمة أصحابنا يكفر معتمده ويراق دمه. والجمهور انه لا يكفر إلا إن ستحله وانما يضعف وترد روايته أبدا, بل يختم ..... انتهى. وليس لأحد أن يستبدل بما صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال : الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل, فان ذلك مختص بصلاة مشروعية سكيرا اورا بيصا تتف كسنتانى صلاة هدية كلوان دليل حديث موضوع, موعكا اورا بيصا تتف كسنتانى صلاة ربو وكاسان كلوان دليل داووهى ستعاهى علماء العارفين, مالاه بيصا حرام, سباب ايكى بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم.
(هذا جواب الفقير اليه تعالى محمد هاشم أشعارى جومباع)
Terjemah:
            Disebutkan dalam nazhatil majalis dari jitab al-muhtar wa matholi’ul anwar. Dari Nabi Saw, tidak datang pada mayit hal yang lebih berat kecuali pada malam pertama. Maka belasilah mereka dengan shodaqoh. Barang siapa yang tidak punya, maka shalatlah 2 rokaat, setiap rokaat membaca fatiha, ayat qursi dan surat al-haakumu al-takasasur….dan qulhuallahuahad 11 kali, dan berdoa ya Allah saya shalat ini, engkau mengetahui apa yang saya kehendaki  ya Allah kirimkanlah pahala shalatku ini kepada kuburan fulan bin fulan. Maka Allah akan mengirimkan saat itu juga 1000 malaikat ke kuburan fulan dan setiap malaikat membawa nur sebagai hadiyah yang menghibur dikuburnya, sampai terompret di tiup ( hari kiamat ) dan bagi orang yang melakukan shalat tersebut akan diberi pahala dengan pahala orang yang mati syahid sebanyak benda yang tersinari matahari, dan akan diberi pakaian perhiasan sebanyak 1000 macam. Telah saya sebutkan ini karena sengat besar manfaatnya dan takut tersia-sia. Maka sebaiknya, bagi setiap orang muslim untuk melakukan shalat tersebut pada setiap malam untuk kemanfaatan orang islam yang sudah mati.

Mas’alah:
  1. Bagaimana hukumnya membaca doa dengan bahasa Indonesia (‘ajam) di dalam shalat?
Jawab:           
            Hukumnya tafsil sbb:
Apabila do’a/adzkar tersebut termasuk rukun shalat, maka wajib membaca terjemahannya bagi orang yang tidak mampu berbahasa arab (ajiz).
Apabila do’a/adzkar tersebut bukan termasuk rukun shalat dan do’a itu ma’tsuroh/mandubah, maka sah sholatnya bagi orang yang memang ajiz.
Apabila do’a/adzkar tersebut tidak ma’tsuroh (mengarang sendiri), maka sholatnya batal secara mutlaq (baik ajiz atau bukan).

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Mughni al-muhtaj, I : 177
( وَمَنْ عَجَزَ عَنْهُمَا ) أَيْ : التَّشَهُّدِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَهُوَ نَاطِقٌ،(تَرْجَمَ ) عَنْهُمَا وُجُوبًا ؛ لِأَنَّهُ لَا إعْجَازَ فِيهِمَا .
أَمَّا الْقَادِرُ فَلَا يَجُوزُ لَهُ تَرْجَمَتُهُمَا ، وَتَبْطُلُ بِهِ صَلَاتُهُ ( وَيُتَرْجِمُ لِلدُّعَاءِ ) الْمَنْدُوبِ ( وَالذِّكْرِ الْمَنْدُوبِ ) نَدْبًا كَالْقُنُوتِ وَتَكْبِيرَاتِ الِانْتِقَالَاتِ وَتَسْبِيحَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ ( الْعَاجِزُ ) لِعُذْرِهِ ( لَا الْقَادِرُ ) لِعَدَمِ عُذْرِهِ ( فِي الْأَصَحِّ ) فِيهِمَا. أَمَّا غَيْرُ الْمَأْثُورِ بِأَنْ اخْتَرَعَ دُعَاءً أَوْ ذِكْرًا بِالْعَجَمِيَّةِ فِي الصَّلَاةِ فَلَا يَجُوزُ. انتهى
  1. Al-Turmusi, II : 175
  2. Al-Majmu’ syarhu Al-Muhadzab, II : 129
  3. Al-Jamal ‘ala Fathu Al-Wahab, I : 350
  4. Al-Mahali, I : 168
  5. Minhaju Al-Qowwim, : 44
  6. Tuhfah, II : 79
  7. Bujairimi, II : 68-69

Mas’alah:
  1. Bilamana hari raya bertepatan dengan hari jum’at bolehkah bagi seorang bagi seorang Alim memberikan keterangan bahwa pada hari tersebut boleh meninggalkan shalat jum’at tapi hanya shalat dhuhur, dimana hal tersebut mengakibatkan kekosongan syia’ar islam atau bisa menimbulkan kericuhan bagi masyarakat islam?
Jawab:
            Memberikan keterangan /fatwa yang bisa menimbulkan masyarakat menjadi tasahul fiddin (meremahkan agama) tidak boleh.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Bughyatu Al-Mustarsyidin, 5-7
لا يحل لعالم ان يذكر مسئلة لمن يعلم انه يقع  بمعرفتها فى تساهل فى الدين ووقوع فى مفسدة, ويحرم على المفتى التساهل
Terjemah:
Tidak boleh bagi seorang Alim untuk menyebutkan mas’alah bagi orang yang dia ketahui bahwa setelah mengetahui mas’alah tersebut ia akan meremehkan/mempermudah urusan agama dan melakukan perbuatan mafsadah dan diharamkan bagi seorang mufti untuk mempermudah/gegabah dalam urusan fatwa.

Mas’alah:
  1. Apakah setiap mukmin itu muslim dan sebaliknya?
Jawab:
            Secara syar’i setiap mukmin itu muslim demikian pula sebaliknya tetapi kalau dilihat mafhumnya lafadz (menurut bahasa) memang tidak sama.
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Dalilu Al-Falihun syara Riyadu al-sholihin, I : 216-218
(أَخْبِرْنِى عَنِ اْلِإسْلَامِ) هُوَ الإِيْمَانُ لاِعْتِبَارِ التَّلاَزُمِ بَيْنَ مَفْهُوْمِهِماَ شَرْعاً، فَلاَ يُعْتَبَرُ فِى الخَارِجِ اِيْمَاناً شَرْعاً بِلاَ اِسْلاَمٍ وَلاَ عَكْسُهُ، مُتَّحِداَنِ ماَصَدَقاً فِى الشَّرْعِ مُخْتَلِفَانِ مَفْهُوْماً ، فَكُلُّ مُؤْمِنٍ شَرْعاً مُسْلِمٍ مُؤْمِنٍ. فَماَدَلَّ عَلَيْهِ حَدِيْثٌ جِبْرِيْلَ مِنِ اخْتِلاَفِهِماَ هُوَ بِاعْتِباَرِ المَفْهُوْمِ، إِذْ مَفْهُوْمُ الاِسْلاَمِ الشَّرْعِىِّ الاِنْقِياَدُ باِلأَفْعاَلِ الظَّاهِرةِ الشَّرْعِيَةِ، والإِيْماَنُ الشَّرْعِىُّ التَّصْدِيْقُ بِالقَواَعِدِ الشَّرْعِيَةِ عَلىَ أَنَّهُ قَدْ يَتَّوَسَعُ الشَّرْعُ فِيْهِماَ فَيَسْتَعْمِلُ كُلَّ واَحِدٍ مِنْهُماَ فِى مَكاَنِ الآخَرِ كَإِطْلاَقِِ الإِيْماَنِ عَلىَ الأَعْماَلِ الظَّاهِرَةِ فِى حَدِيْثِ : الإِيْماَنُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ بَاباً أَذْناَهاَ إماَطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، ....الحديث.

Terjemah:
(Beritahuakan kepada kami tentang Islam) yaitu iman karena memandang kaitan erat antara pemahaman keduanya secara syara’, maka tidak dianggap beriman dalam kenyataan syara’ apabila tidak Islam dan tidak juga sebaliknya, keduanya sama dalam esensinya secara syara’ dan berbeda dalam artian pemahaman keduanya, maka setiap mukmin secara syara’ adalah muslim begitu pula setiap muslim adalah mukmin, maka apa yang ditunjukkan oleh hadist Jibril tentang perbedaan antara keduanya adalah melihat arti pemahaman, karena pemahaman Islam secara syara’  adalah tunduk dengan pengalaman lahir secara syari’ah, iman menurut syara’ ialah membetulkan dalam hati terhadap qaidah-qaidah syari’ah dengan arti bahwa iman itu terkadang syara’ mengartikan secara luas pada dua pengertian (tunduk atas amalan/perbuatan yang dhohir/yang batin). Maka dipakailah setiap satu dari keduanya pada tempat yang lain. Seperti pemakaian kata iman untuk perbuatan yang dhohir dalam hadist: iman itu lebih dari 70 bab yang paling ringan adalah menyingkirkan duri di jalan (Al-Hadist)
وفى صحيفة 219 مانصه : ( تَنْبِيْهٌ ) الإِسْلاَمُ لَهُ فِى الشَّرعِ اِطْلاَقاَتُهُ يُطْلَقُ عَلَى الأَعْماَلِ الظَّاهِرَةِ كَماَفِى الحَدِيْثِ، وَعَلَى الإِسْتِسْلاَمِ وَالإِنْقِياَدِ، وَالتَّلاَزُمُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الإِيْماَنِ اِعْتِباَراً لما صُدِقَ شَرْعاً اِنَّما هو بِاعتِبارِ المَعنىَ الأَوَّلِ فَالإِيْمانُ يَنْفَكُّ عَنْهُ، اِذْ قد يوجد التصديق والإستسلام الباطنى بدون الأعمال المشروعة أما الإسلام بمعنى الأعمال المشروعة فلايمكن أن ينفك عنه الإيمان لإشتراطه لصحتها، وهي لاتشترط لصحته خلافا للمعتزلة. انتهى
Terjemah:
(peringatan) Islam menurut syara’ adalah pengertiannya diartikan atas beberapa perbuatan yang dzohir, sebagaimana dalam hadist pengertian penyerahan diri menyanggupi (manut), talazum (saling terkait) diantara islam dan iman, memandang pengertian yang kedua, sedang bila memandang pada pengertian yang pertama maka iman itu bisa lepas dari islam, karena terkadang dijumpai keyakinan dan penyerahan diri secara batin dengan tanpa perbuatan yang dilakukan. Adapun Islam dengan pengertian perbuatan yang dilaksanakan itu tidak mungkin terlepas dari iman, karena syarat sahyna amal/perbuatan adalah harus islam. Dan iman tidak menjadi syarat sahya perbuatan/amal, berbeda dengan pandangan kaum mu’tazilah.


KEPUTUSAN BAHTSU AL-MASAIL SYURIYAH
NU WILAYAH JAWA TIMUR
DI PP QOMARUDDIN BUNGAH GRESIK
 

Mas’alah :
  1. Kebanyakan buruh tani dimusim tanam jagung mengambil bibit dari malikul ardl (pemilik tanah) dalam satu hektarnya satu blek jagung kurping dengan syarat bilamana berhasil tanamnya, burh tersebut harus mengembalikan jagung kulitan seribu biji kepada malikul ardl sebelum dibagi hasil. Kemudian barulah dibagi hasil antara buruh dan malik, seribu biji itu bila dikurping akan lebih baik daripada satu blek tadi. Apakah aqad tersebut boleh atau tidak?

Jawab :
Akad tersebut adalah aqad yang fasid. Kemudian aqad seperti itu agar bisa menjadi muamalah shohihah hendaknya dilaksanakan sebagai berikut :
Dilaksanakan perjanjian pembagian hasil antara malik dengan amil, dimana bibit dari malik. Sedangkan pembagina hasilnya dilakukan ala juz’il ma’lum (bagian pasti) dengan memperhitungkan biaya yang dikeluarkan oleh malik, baik itu untuk bibit maupun untuk lain-lain, sehingga dengan demikian aqad tersebut menjadi aqad muzaro’ah shohihah.

Dasar pengambilan :
  1. Fathu Al-Qorib : 38
(واذا دفع) شخص ( الى رجل أرضا ليزعها وشرط له جزأ معلوما من ريعها لم يجز) ذلك لكن النواوى تبعا لابن المنذر اختار جواز المخابرة وكذا المزارعة وهي عمل العامل فى الارض ببعض مايخرج منها والبذر من المالك.

Terjemah :
Ketika seseorang memberikan tanah kepada orang lain agar ia mengolah (menanaminya) dan pemberi menjanjikan bagian yang pasti (jelas) dari hasilnya maka itu tidak boleh. Namun Imam An Nawawi mengikuti Imam Ibnu Mundzir memilih hukum boleh (jawaz) terhadap mukhobaroh dan muzaro’ah. Muzaro’ah adalah seseorang menggarap tanah dengan bagi hasil dari perolehan (panen) sedangkan benih dari pemilik tanah, mukhobaroh yaitu sama dengan muzaro’ah tetapi benih dari penggarap tanah.
Mas’alah :
  1. Pada masa sekarang ini kebanyakan dokter mengobati luka-luka yang ada didalam anggota wudlu dengan plester (jabiroh) yang tidak boleh dibuka sebelum sembuh, sedang pemakaiannya pada waktu hadast (tidak suci)
Kalau menurut kitab Kifayatul Akhyar Juz 1 hal 38 syarat-syaratnya berat, yakni :
a.       Harus dalam keadaan suci
b.      Pemasangan harus menurut tertibnya anggota yang dibasuh ketika wudlu
c.       Banyaknya tayamum berulangkali menurut jumlah jabiroh didalam anggota wudlu
d.      Banyaknya tayamum berulangkali menurut jumlah jabiroh didalam anggota wudlu.

Pertanyaan:
Apakah ada qoul ringan, misalnya:
  • Pemasangan boleh pada saat hadats
  • Boleh tayamum setelah usai wudlu
  • Bertayamum hanya satu kali saja walaupun jabirohnya lebih dari Saturday
Jawab:
            Ada pendapat yang ringan seperti yang tertera dalam kitab sbb:
  1. Al-Mizan, I : 135
ومن ذلك قول الإمام الشافعى – من كان بعضو من أعضائه جرح اوكسر او قروح والصق عليه جبيرة وخاف من نزعها التلف انه يمسح على الجبيرة وتيمم مع قول أبى حنيفة ومالك انه ان كان بعض جسده صحيحا وبعضه جريحا ولكن الأكثر هو الصحيح غسله وسقط حكم الجريح ويستحب مسحه بالماء. وان كان الصحيح هو الأقل تيمم وسقط غسل العضو الصحيح وقال أحمد يغسل الصحيح وتيمم عن الجريح من غير مسح للجبيرة.
ووجه الأول الأخد بالإحتياط بزيادة وجوب مسح الجبيرة لما تأخذه من الصحيح غالباللا ستمساك. ووجه الثانى أنه اذاكان الأكثر الجريح القرح فالحكم له لأن شدة الألم حينئذ أرجح فى طهارة العضو من غسله بالماء فان الأمراض كفارات للخطايا.
Terjemah:
        Menurut imam syafi’I : orang yang di anggauta wudlunya ada luka atau bengkak kemudian diperban dan ia takut mengusap perban dan bertayamum. Menurut imam hanafi dan malik: jika yang sakit lebih kecil daripada yang sehat, cukup membasuh yang sehat dan disunnahkan mengusap yang sakit. Apabila yang sehat lebih kecil, maka hanya wajib tayamum. Dan tidak wajib membasuh anggota yang sehat. Menurut imam ahmad, membasuh anggota yang wajib dan tayamum untuk sakit tidak wajib mengusap perban. Pendapat pertama mengambil langkah yang berhati-hati, dengan menambahkan: wajibnya mengusap tambal karena diambil pada anggota badan yang shohih/sehat secara umum untuk penanggulangan. Pendapat yang kedua, ketika yang lebih banyak itu luka atau koreng, maka hukum berada padanya. Karena parahnya sakit saat demikian, lebih diutamakan didalam pensucian anggota badan disbanding harus membasuh dengan air. Karena penyakit itu adalah menghapus terhadap kesalahan (dosa).

  1. Al-Qalyubi, I : 97
( فان تعذر ) نزعه لخوف محذور مما ذكره فى شرح المهذب ( قضى ) مع مسحه بالماء ( على المشهور) لانتفاء شبهه حينئذ بالخف والثانى لايقضى للعذر والخلاف فى القسمين فيما اذا كان الساتر على غير محل التيمم فان كان على محله قضى قطعا لنقص البدل والمبدل جزم به فى أصل الروضة ونقله فى شرح المهذب ... الى ان قال : الاظهر انه ان وضع على طهر فلا اعادة والا وجبت. انتهى وعلى المختار السابق له لاتجب.

Terjemah:
            Apabila ada udzur untuk melepas ( tambal) seperti apa yang disebut dalam syarah muhadzab maka wajib mengqodoi  shalatnya dan mengusapnya dengan air menurut yang mashur, karena hal ini tidak ada keserupaan, dengan pemakai muzah ( alas kaki arab ). Menurut pendapat yang kedua tidak perlu qodlo shalatnya ( bila dilakukan ) karena termasuk udzur, perbedaan pendapat di dalam dua kelompok tersebut, dalam mas’alah, penutup (tambal) yang terdapat selain anggota tayamum (seperti lengan/muka) maka jelas harus mengqodlo shalatnya, karena ada kurangnya antara pengganti dan yang diganti. Hal itu diyakini oleh imam nawawi didalam aslinya kitab Roudloh dan menukilnya didalam kitab syarah al-muhadzab, S/d …. Menurut yang adzhar, jika waktu memasang penutup (tambal) itu dalam kondisi suci, maka tidak perlu mengulang shalatnya, kalau tidak suci maka wajib mengulang. Menurut yang mashur ( terpilih ) yang dahulu tidak wajib.
  1. Al-Qalyubi, I : 84
( فَإِنْ كَانَ ) مَنْ بِهِ الْعِلَّةُ ( مُحْدِثًا فَالْأَصَحُّ اشْتِرَاطُ التَّيَمُّمِ وَقْتَ غَسْلِ الْعَلِيلِ ) رِعَايَةً لِتَرْتِيبِ الْوُضُوءِ ، وَالثَّانِي يَتَيَمَّمُ مَتَى شَاءَ كَالْجُنُبِ لِأَنَّ التَّيَمُّمَ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ ، وَالتَّرْتِيبُ إنَّمَا يُرَاعَى فِي الْعِبَادَةِ الْوَاحِدَةِ .
( فَإِنْ جُرِحَ عُضْوَاهُ ) أَيْ الْمُحْدِثِ ( فَتَيَمُّمَانِ ) عَلَى الْأَصَحِّ الْمَذْكُورِ ، وَعَلَى الثَّانِي تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ ، وَكُلٌّ مِنْ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ كَعُضْوٍ وَاحِدٍ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يُجْعَلَ كُلَّ وَاحِدَةٍ كَعُضْوٍ.الشَّرْحُ : قَوْلُهُ : ( فَتَيَمُّمَانِ ) أَيْ إنْ وَجَبَ التَّرْتِيبُ بَيْنَهُمَا وَإِلَّا كَمَا لَوْ عَمَّتْ الْعِلَّةُ الْوَجْهَ وَالْيَدَيْنِ فَيَكْفِي لَهُمَا تَيَمُّمٌ وَاحِدٌ عَنْهُمَا ، وَكَذَا لَوْ عَمَّتْ جَمِيعَ الْأَعْضَاءِ لِسُقُوطِ التَّرْتِيبِ .[1]
Mas’alah:
  1. Ada orang melakukan ibadah Haji dengan niat ifrod kemudian setelah di makkah dirasakan berat, karena menunggu lama dan takut kepada resiko membayar dam yang lebih banyak sebagai akibat dari melakukan pelanggaran-pelanggaran, maka diubah menjadi haji tamattu’ dengan membayar dam satu kali.

Jawab:
            Tidak boleh menurut mayoritas ulama dan boleh menurut imam Ahmad.
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-Majmu’ VII : 166-167
إذا أحرم بالحج لايجوز له فسخه وقلبه عمرة، وإذا أحرم بالعمرة لايجوز له فسخها حجا لالعذرة ولالغيره، وسواء أساق الهدى أم لا، هذا مذهبنا، قال ابن الصباغ والعبدرى وآخرون وبه قال عامة الفقهاء وحملوا ورود الآحاديث فى ذلك على انه مختص بالصحابة فى تلك السنة فقط.
كالو تيدا بوليه، مكا باكى اوراع ترسبوت تتف برلاكو محرمات الاحرام. ففى المجموع ج 7 ص 167. وقال أحمد يجوز فسخ الحج إلى العمرة إن لم يسق الهدى.
Mas’alah:
            Ada orang melakukan ibadah haji dengan istrinya, kedua suami istri itu sudah tiga kali melakukan haji, kemudian pada waktu sudah masuk karantina suaminya meninggal dunia dan si istri akan melakukan perjalanan haji dengan mahrom keponakannya. Tetapi oleh seorang ulama tidak diperkenankan dengan alasan bahwa ibadah haji perempuan itu hukumnya sunat, sedangkan ihdad dan tidak keluar rumahnya itu hukumnya wajib.
Pertanyaan:
Apakah larangan atau alasan itu benar atau tidak ? dan apakah tidak termasuk dalam kaidah:
الحاجة تنزل منزلة الضرورة
Sedangkan
الضرورة تبيح المحظورة
Jawab:
            Perempuan tersebut boleh memilih antara menunda dan melangsungkan perjalanan hajinya, tetapi menundanya lebih utama.
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-Mahalli, I : 56  ( belum ketemu karena cetakan tidak jelas)
  2. Al-Um : V/ 228
وإن أذن لها بالسفر فخرجت أو خرج بها مسافرا إلى حج أو بلد من البلدان فمات عنها أو طلقها طلاقا لا يملك فيه الرجعة فسواء ولها الخيار في ان تمضي في سفرها ذاهبة أو جائية وليس عليها أن ترجع إلى بيته قبل أن ينقضي سفرها.
Terjemah:
            Jika seseorang mengizini istrinya pergi, kemudian istrinya pergi atau perjalanan untuk haji, atau pergi kelain Negara, kemudian suaminya meninggal dunia, atau menalaq istrinya dengan talaq yang tidak rujuk, maka istri boleh memilih untuk meneruskan perjalanannya pergi atau datang (kerumahnya). Dan dia tidak wajib bagi istri tersebut langsung pulang kerumah suaminya sebelum selesai perjalanan.
فإذا انتقلت ببدنها وإن لم تنتقل بمتاعها ثم طلقها أو مات عنها اعتدت في الموضع الذي انتقلت إليه بإذنه (قال) سواء أذن لها في منزل بعينه أو قال لها انتقلي حيث شئت أو انتقلت بغير إذنه فأذن لها بعد في المقام في ذلك المنزل كل هذا في أن تعتد فيه سواء (قال) ولو انتقلت بغير إذنه ثم يحدث لها إذنا حتى طلقها أو مات عنها رجعت فاعتدت في بيتها الذي كانت تسكن معه فيه.
وهكذا السفر يأذن لها به فإن لم تخرج حتى يطلقها أو يتوفى عنها أقامت في منزلها ولم تخرج منه حتى تنقضي عدتها وإن أذن لها بالسفر فخرجت أو خرج بها مسافرا إلى حج أو بلد من البلدان فمات عنها أو طلقها طلاقا لا يملك فيه الرجعة فسواء ولها الخيار في ان تمضي في سفرها ذاهبة أو جائية وليس عليها أن ترجع إلى بيته قبل أن ينقضي سفرها فلا تقيم في المصر الذي أذن لها في السفر إليه إلا أن يكون أذن لها في المقام فيه أو في النقلة إليه فيكون ذلك عليها إذا بلغت ذلك المصر.[2]
  1. Al-idloh : 60
انه لو مات مثلا قبل احرامها لزمها الرجوع معه وإلا معه وإلا فالذى يظهر أنه ينظر الى ماهو مظنه السلامة والأمن أكثر.
Terjemah:
            Sesungguhnya seandainya suaminya mati sebelum dia (istri) ihrom maka wajib baginya pulang kerumah suaminya, jika tidak pulang, maka menurut yang dhohir dipandang dari prasangka selamat, dan aman yang lebih banyak.
Mas’alah:
            Ada dua orang suami istri akan melakukan ibadah haji kurang sepuluh hari berangkat si suami meninggal dunia, lalu si istri akan melanjutkan ibadah hajinya dengan mahrom orang lain, karena memang baru kali ini dia akan beribadah haji, bolehkah dia terus berangkat atau tidak, sedangkan dia masih dalam keadaan iddah dan wajib ihdad ( tidak terhias dan parvum )
Jawab:
            Tidak boleh, kecuali ada kekhawatiran yang mengancam keselamatan jiwa, harta (seperti potongan biaya administrasi) dan sebagainya.
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Jamal ala Fathi Al-Wahab : IV/ 463
(وكخوف) على نفس أو مال من نحو هدم وغرق وفسقة مجاورين لها. ( قوله او مال ) اى لها او لغيرها كوديعة وان قل. قال حج أو اختصاص كذلك.
Terjemah:
           
(وكخوف) على نفس أو مال من نحو هدم وغرق وفسقة مجاورين لها، وهذا أعم من قوله لخوف من هدم أو غرق أو على نفسها، (وشدة تأذيها بجيران أو عكسه) أي شدة تأذيهم بها للحاجة إلى ذلك بخلاف الاذى اليسير، إذ لا يخلو منه أحد ومن الجيران الاحماء وهم أقارب الزوج، نعم إن اشتد أذاها لهم أو عكسه وكانت الدار ضيقة نقلهم الزوج عنها، وخرج بالجيران ما لو طلقت ببيت أبويها وتأذت بهم أو هم بها فلا نقل، لان الوحشة لا تطول بينهما.[3]
Terjemah:
            Diperbolehkan keluar rumah karena ada hajat seperti khawatir atas dirinya atau hartanya dari sesamanya bencana alam, banjir, kefasikan yang berdekatan dengannya ( kata mushonif : “atau harta” ) maksudnya baik bagi dirinya perempuan atau milik orang lain, seperti harta titipan meskipun meskipun sedikit, imam ibnu hajar berkata : atau kehususan itulah menjadi alasan / sebab.


KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL SYURIYAH NU
WILAYAH JAWA TIMUR
DI PP AN-NUR TEGAL REJO PRAMBON NGANJUK
TGL 26-27 SYAWAL 1401 H/ 26-27 AGUSTUS 1981 M
Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya mengerjakan proses bayi tabung. Bayi tabung ialah bayi yang dihasilkan bukan dari persetubuhan, tetapi dengan cara mengambil mania tau sperma laki-laki dan sel telur wanita, lalu dimasukan kedalam suatu alat dalam waktu beberapa hari lamanya. Setelah hal tersebut dianggap mampu menjadi janin, maka dimasukkan kedalam rahim ibu.
Jawab:
Hukumnya tafsil sbb:
  1. Apabila sperma yang di tabung dan yang dimasukan ke dalam rahim wanita tersebut ternyata bukan sperma suami istri, maka hukumnya haram.
  2. Dan apabila sperma/mani yang ditabung tersebut sperma suami istri, tetapi cara mengeluarkannya tidak muhtarom, maka hukumnya juga haram.
  3. Bila sperma yang ditabung itu sperma/mani suami istri dan cara mengeluarkannya muhtarom, serta dimasukan ke dalam rahim istri sendiri maka hukumnya boleh.

Keterangan:
  1. Mani muhtarom adalah yang keluar atau dikeluarkan dengan cara yang diperbolehkan oleh syara’
  2. Tentang anak yang dihasilkan dari sperma, tersebut dapat ilhaq atau tidak kepada pemilik mani terdapat perbedaan pendapat antara imam ibnu hajar dan imam romli
  3. Menurut imam ibnu hajar tidak bisa ilhaq kepada pemilik mani secara mutlaq ( baik muhtarom atau tidak ) sedang menurut imam romli anak tersebut dapat ilhaq kepada pemilik mani dengan syarat keluarnya mani tersebut harus muhtarom.

Dasar pengambilan Dalil:
  1. Al-jami’ul Shoghir hadis no. 8030
مامن ذنب بعد الشرك أعظم عند الله من نطفة وضعها رجل فى رحم لايحل له. رواه ابن الدنا عن الهشيم بن مالك الطائ الجامع الصغير 8030
Terjemah:
            Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik (mensekutukan Allah ) disisi Allah dari pada maninya seorang laki-laki yang ditaruh pada rahim wanita yang tidak halal baginya. ( HR. ibnu abiddunya dari hasyim bin malik al-thoi)
  1. Hikmatu Tasyri’wal Safatuhu, II : 48
من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فلا يسقين ماءه زرع أخيه
Terjemah:
            Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali menyiram air (maninya ) pada lahan tanaman (rahim) orang lain.
  1. Al-Qolyubi, IV : 32
ولو أتت بولد عُلِمِ أنه ليس منه مع إمْكَانِه مِنْهُ ( لَزِمَهُ نَفْيُهُ ) لِأَنَّ تَرْكَ النَّفْيِ يَتَضَمَّنُ اسْتِلْحَاقَ مَنْ لَيْسَ مِنْهُ حَرَامٌ.
Terjemah:
            Apabila seoarang perempuan datang dengan membawa anak, dan diketahui bahwa anak tersebut bukan dari suaminya, dan dapat mungkin dari suaminya (namun secara yakin tidak dari suaminya). Maka wajib meniadakan (menolak mengakui), karena bila tidak dilaksanakan penolakan, dapat dimasukan nasab dari orang yang tidak haram (suaminya).
( وَلَوْ أَتَتْ بِوَلَدٍ عَلِمَ أَنَّهُ لَيْسَ مِنْهُ ) مَعَ إمْكَانِ كَوْنِهِ مِنْهُ ( لَزِمَهُ نَفْيُهُ ) لِأَنَّ تَرْكَ النَّفْيِ يَتَضَمَّنُ اسْتِلْحَاقَهُ ، وَاسْتِلْحَاقُ مَنْ لَيْسَ مِنْهُ حَرَامٌ وَطَرِيقُ نَفْيِهِ اللِّعَانُ الْمَسْبُوقُ بِالْقَذْفِ فَيَلْزَمَانِ أَيْضًا وَإِنَّمَا يَلْزَمُهُ قَذْفُهَا إذَا عَلِمَ زِنَاهَا ، أَوْ ظَنَّهُ كَمَا تَقَدَّمَ فِي جَوَازِهِ ، وَإِلَّا فَلَا يَقْذِفُهَا لِجَوَازِ أَنْ يَكُونَ الْوَلَدُ مِنْ وَطْءِ شُبْهَةٍ قَالَهُ الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ ( وَإِنَّمَا يَعْلَمُ ) أَنَّ الْوَلَدَ لَيْسَ مِنْهُ ( إذَا لَمْ يَطَأْ ) ( أَوْ ) وَطِئَ وَ ( وَلَدَتْهُ لِدُونِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ مِنْ الْوَطْءِ ) الَّتِي هِيَ أَقَلُّ مُدَّةِ الْحَمْلِ ( أَوْ فَوْقَ أَرْبَعِ سِنِينَ ) الَّتِي هِيَ أَكْثَرُ مُدَّةِ الْحَمْلِ ( فَلَوْ وَلَدَتْهُ لِمَا بَيْنَهُمَا ).[5]

  1. Bujairimi Iqna’ IV : 36
( الحاصل ) المراد بالمنى المحترام حال خروجه فقط على ما اعتمده مر وان كان غير محترم حال الدخول، كما اذا احتلم الزوج وأخذت الزوجة منيه فى فرجها ظانة أنه من منىّ اجنبى فإن هذا محترم حال الخروج وغير محترم حال الدخول وتجب العدة به إذا طلقت الزوجة قبل الوطء على المعتمد خلافا لإبن حجر لأنه يعتبر أن يكون محترما فى الحالين كماقرره شيخنا.
Terjemah:
            (kesimpulan) yang dimaksud mani muhtarom (mulya) adalah pada waktu keluarnya saja, seperti yang dikuatkan imam romli, meskipun tidak muhtarom padawaktu masuk. Contoh : suami bermimpi keluar mani, dan istrinya mengambilnya ( air mani tersebut) lalu dimasukan kefarjinya dengan persangkaan, bahwa air mani tersebut milik laki-laki lain (bukan suaminya) maka hal ini dinamakan mani muhtarom keluarnya, tapi tidak muhtarom waktu masuknya kefarji, dan dia wajib punya iddah (masa penantian) jika suaminya menceraikan sebelum disetubui. Menurut yang mu’tamad, berbeda dengan pendatnya imam ibnu hajar yang mengatakan, kreterianya harus muhtarom keduanya (waktu masuk dan keluar) seperti ketetapan dari syaikuna ( Rofi’I Nawawi).
  1. Kifayatu Al-akhyar, II : 113
لو إستمنى الرجل منية بيد امرأته او امته جاز لأنها محل استمتاعها
Terjemah:
            Jika seorang suami sengaja mengeluarkan air maninya dengan perantara tangan istrinya, atau tangan perempuan amatnya, maka boleh, karena perempuan tersebut tempat istima’ (senang-senang) bagi seorang suami.
  1. Tuhfa, VI : 431 ( belum ketemu )
  2. Al-bajuri, II : 172
  3. Al-bughya : 238

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya cangkok mata?
Transplantasi kornea atau cangkok mata ialah mengganti selaput mata seseorang dengan selaput mata orang lain, atau kalau mungkin dengan selaput mata binatang. Jadi yang diganti hanya selaputnya saja bukan bola mata seluruhnya. Adapun untuk mendapatkan kornea / selaput mata ialah dengan cara mengambil bola mata seluruhnya dari orang yang sudah mati. Bola mata itu kemudian dirawat baik-baik dan mempunyai kekuatan paling lama 72 jam (tiga hari tiga malam). Sangat tipis sekali dapat dihasilkan cangkok kornea dari binatang.

Jawab:
            Hukumnya ada dua pendapat:
  1. Haram, walaupun mayat itu tidak terhormat seperti mayitnya orang murtad. Demikian pula haram menyambung anggota manusia dengan anggota manusia lain, bahaya buta itu tidak sampai melebihi bahayanya merusak kehormatan mayit.

Dasar Pengambilan Dalil:
1)      Ahkamul Fuqoha, III : 58
مسألة : ماقولكم فى إفتاء مفتى ديار المصرية بجواز أخد حداقة الميت لوصلها إلى عين الأعمى. هل هو صحيح أولا ؟ قرر المؤتمر بأن ذلك الإفتاء غير صحيح ، بل يحرم أخد حداقة الميت ولو غير محترم كمرتد وحربى. ويحرم وصله بأجزاء الآدمى لأن ضرر العمى لايزيد على مفسدة إنتهاك حرمات الميت كما فى حاشية الرشيدى على ابن العماد. صحيفة 26 وعبارته : أماالآدمى فوجوده حنئيد كالعدم كما قال الحلبى على المنهج، ولوغير محترم كمرتد وحربى فيحرم الوصل به ويجب نزعه. انتهى. ولقول صلى الله عليه وسلم : كسر عظم الميت ككسره حيا ( رواه أحمد فى المسند وأبو داود وابن ماجه) وعن عائشة "كسر عظم الميت ككسر عظم الحى فى الإثم (رواه ابن ماجه عن أم سلمة) حديث حسن.
2)      Hasiah Ar-Rosidi ‘ala ibni ‘imad, hal, 26

  1. Boleh disamakan dengan diperbolehkannya menambal dengan tulang manusia, asalkan memenuhi 4 syarat :

1)      Karena dibutuhkan
2)      Tidak ditemukan selain dari anggota tubuh manusia
3)      Mata yang diambil harus dari mayit muhaddaroddam (halal darahnya)
4)      Antara yang diambil dan yang menerima harus ada persamaan agama

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Fathul Jawad 26
وبقى مالم يوجد صالح غيره فيحتمل جواز الجبر بعظم الآدمى الميت كمايجوز للمضطر أكل الميت وإن لم يخش إلا مبيح التيمم. وجزم المدابغى بالجواز، حيث قال : فان لم يصلح إلاعظم الآدمى قدم نحو الحربى كالمرتد ثم الذمى ثم المسلم.
Terjemah:
            Dan masih ada, bila sudah tidak di jumapai yang baik boleh menambali (cangkok) dengan tulang orang yang sudah mati. Seperti halnya boleh memakan bangkai orang yang sudah mati meski tidak hawatir sampai batas diperbolehkannya tayamum. Dan imam al-madabighi yakin dengan hukum boleh, dia menyatakan jika tidak ada yang bagus (untuk menambal) kecuali tulang orang, maka dahulukanlah orang kafir harbi, orang murtad, lalu kafir dzimy, kemudian orang islam.
  1. Al-mahali
وله أى للمضطر أكل أدمى ميت لأن حرمة الحى أعظم من حرمة الميت
Terjemah:
            Jika terpaksa dan yang ditemukan hanya bangkai orang mati, maka boleh memakannya, karena kehormatan orang yang masih hidup masih dikuatkan dari pada kehormatan orang yang sudah mati.
  1. Bijaeromi iqna, IV : 272 (belum ditulis)
والأوجه كماهو ظاهر كلامهم عدم النظر إلى أفضلية الميت مع إتحادهما إسلاما وعصمة.
Terjemah:
            Menurut yang aujah, seperti penjelasan ahli fiqih tidak memandang pada istemewanya seorang mayit jika sama-sama islam dan terjaga.
  1. Mughni Muhtaj, IV : 307
( وَلَهُ ) أَيْ الْمُضْطَرِّ ( أَكْلُ آدَمِيٍّ مَيِّتٍ ) إذَا لَمْ يَجِدْ مَيْتَةً غَيْرَهُ كَمَا قَيَّدَاهُ فِي الشَّرْحِ وَالرَّوْضَةِ ؛ لِأَنَّ حُرْمَةَ الْحَيِّ أَعْظَمُ مِنْ حُرْمَةِ الْمَيِّتِ.
Terjemah:
            Boleh bagi orang yang terpaksa makan bangkai orang ketika tidak di temukan lainnya, seperti alasan dalam kitab syarah dan kitab raudloh, karena kehormatan orang hidup lebih diutamakan dari pada orang mati.
وَلَهُ أَكْلُ آدَمِيٍّ. الشَّرْح : ( وَلَهُ ) أَيْ الْمُضْطَرِّ ( أَكْلُ آدَمِيٍّ مَيِّتٍ ) إذَا لَمْ يَجِدْ مَيْتَةً غَيْرَهُ كَمَا قَيَّدَاهُ فِي الشَّرْحِ وَالرَّوْضَةِ ؛ لِأَنَّ حُرْمَةَ الْحَيِّ أَعْظَمُ مِنْ حُرْمَةِ الْمَيِّتِ ، وَيُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ مَا إذَا كَانَ الْمَيِّتُ نَبِيًّا فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ الْأَكْلُ مِنْهُ جَزْمًا كَمَا قَالَهُ إبْرَاهِيمُ الْمَرْوَزِيُّ وَأَقَرَّهُ وَمَا إذَا كَانَ الْمَيِّتُ مُسْلِمًا وَالْمُضْطَرُّ كَافِرًا ، فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ الْأَكْلُ مِنْهُ لِشَرَفِ الْإِسْلَامِ ، بَلْ لَنَا وَجْهُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَكْلُ الْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ وَلَوْ كَانَ الْمُضْطَرُّ مُسْلِمًا .
تَنْبِيهٌ : حَيْثُ جَوَّزْنَا أَكْلَ مَيْتَةِ الْآدَمِيِّ الْمُحْتَرَمِ لَا يَجُوزُ طَبْخُهَا وَلَا شَيُّهَا لِمَا فِيهِ مِنْ هَتْكِ حُرْمَتِهِ، وَيَتَخَيَّرُ فِي غَيْرِهِ بَيْنَ أَكْلِهِ نِيئًا وَمَطْبُوخًا وَمَشْوِيًّا.[6]
  1. Al-Muhadzab, I : 251
وان اضطر ووجد آدميا ميتا جاز أكله لان حرمة الحى آكد من حرمة الميت.
Terjemah:
            Jika terpaksa dan yang di temukan hanya bangkai orang mati maka boleh memakannya, karena kehormatan orang yang masih hidup lebih di kuatkan dari pada orang yang sudah mati.
(والثانى) أنه يأكل الميتة لانه منصوص عليها والصيد مجتهد فيه وان اضطر ووجد آدميا ميتا جاز له أكله لان حرمة الحى آكد من حرمة الميت وان وجد مرتدا أو من وجب قتله في الزنا جاز له أن يأكله لان قتله مستحق وان اضطر ولم يجد شيئا فهل يجوز له أن يقطع شيئا من بدنه ويأكله فيه وجهان (قال) أبو إسحق يجوز لانه احياء نفس بعضو فجاز كما يجوز أن يقطع عضوا إذا وقعت فيه الآكلة لاحياء نفسه ومن أصحابنا من قال لا يجوز لانه إذا قطع عضوا منه كان المخافة عليه أكثر وان اضطر إلى شرب الخمر أو البول شرب البول لان تحريم الخمر أغلظ ولهذا يتعلق به الحد فكان البول أولى وان اضطر إلى شرب الخمر وحدها ففيه ثلاثة أوجه (أحدها) أنه لا يجوز أن يشرب لما روت أم سلمة رضى الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ان الله سبحانه وتعالى لم يجعل شفاءكم فيما حرم عليكم) (والثانى) يجوز لانه يدفع به الضرر عن نفسه فصار كما لو أكره على شربها (والثالث) أنه ان اضطر إلى شربها للعطش لم يجز لانها تزيد في الالهاب والعطش وان اضطر إليها للتداوي جاز).[7]

  1. Al-qolyubi, I : 182
( وَلَوْ وَصَلَ عَظْمَهُ ) لِانْكِسَارِهِ وَاحْتِيَاجِهِ إلَى الْوَصْلِ .

Terjemah:
            Jika menyambung tulangnya karena pecah dan ia memerlukan sembungan dengan tulang najis karena daftar orang-orang yang menyatakan dirinya rela di ambil bola mata nya sesudah mati untuk kepentingan manusia.
( وَلَا يَضُرُّ نَجَسٌ يُحَاذِي صَدْرَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ عَلَى الصَّحِيحِ ) لِعَدَمِ مُلَاقَاتِهِ لَهُ ، وَالثَّانِي يَقُولُ الْمُحَاذِي مِنْ مَكَانِ صَلَاتِهِ فَتُعْتَبَرُ طَهَارَتُهُ .
( وَلَوْ وَصَلَ عَظْمَهُ ) لِانْكِسَارِهِ وَاحْتِيَاجِهِ إلَى الْوَصْلِ .
( بِنَجَسٍ ) مِنْ الْعَظْمِ ( لِفَقْدِ الطَّاهِرِ ) الصَّالِحِ لِلْوَصْلِ ( فَمَعْذُورٌ ) فِي ذَلِكَ فَتَصِحُّ صَلَاتُهُ مَعَهُ وَلَيْسَ عَلَيْهِ نَزْعُهُ إذَا وَجَدَ الطَّاهِرَ كَمَا فِي الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا ، وَقَضِيَّةُ مَا فِي التَّتِمَّةِ أَنَّهُ يَجِبُ نَزْعِهِ إنْ لَمْ يَخَفْ مِنْهُ ضَرَرًا ( وَإِلَّا ) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَفْقِدْ الطَّاهِرَ أَيْ وَجَدَهُ وَجَبَ عَلَيْهِ ( نَزْعُهُ ) أَيْ النَّجِسِ ( إنْ لَمْ يَخَفْ ) مِنْ نَزْعِهِ ( ضَرَرًا ظَاهِرًا ) وَهُوَ مَا يُبِيحُ التَّيَمُّمَ كَتَلَفِ عُضْوٍ فَلَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ مَعَهُ .[8]


  1. Bujairimi ala- alwahab, I : 239
Mas’alah:
            Bagaiman hukumnya Bank Mata?
Bank mata adalah semacam badan atau yayasan yang tugasnya antara mencari dan mengumpulkan daftar orang-orang yang menyatakan dirinya rela di ambil bola matanya sesudah mati untuk kepentingan manusia.

Jawab:
            Hukumnya Bank Mata adalah sama hukumnya pencangkokan diatas, sebagaimana keterangan dan penjelasan diatas. Hal ini sesuai dengan qoidah ushul fiqih yang berbunyi :
للوسائل حكم المقاصد
Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya cangkok ginjal dan jantung?
  1. Cangkok ginjal ialah mengganti ginjal seseorang dengan ginjal orang lain. Ginjal pengganti itu dapat diambil dari orang yang masih hidup atau orang yang sudah mati. Pengambilan ginjal dari orang yang hidup itu mungkin karena setiap orang mempunyai dua ginjal.
  2. Transplantasi jantung ialah mengganti jantung seseorang dengan jantung orang lain. Transplatasi jantung ini hanya dapat di lakukan dari orang yang sudah mati saja, karena setiap orang hanya mempunyai satu jantung.
Kiranya sangat sulit melakukan transplatasi ginjal dan jantung dari binatang. Karena dua hal ini dibutuhkan adanya persamaan antara darah yang memberikan ginjal atau jantung
( donor) dengan orang yang mendapatkan ganti ginjal atau jantung tadi.

Jawab:
            Hukumnya cangkok ginjal dan jantung sama dengan hukumnya pencangkokan mata.

Mas’lah:
            Bagaimana kedudukan hukum/status syar’I lembaga zakat yang dibentuk oleh pemerintah daerah dihubungkan dengan ketentuan-ketentuan fiqih tentang amil?
Jawab:
            Hukumnya lembaga zakat yang dibentuk oleh pemerintah daerah adalah sah, karena pemerintah Indonesia mempunyai hak syar’I untuk membentuk amil.
Dasar Pengambilan dalil:
  1. Al- Mauhibah IV : 130
والصنف الخامس العاملون عليها، ومنهم الساعى الذى يبعثه الإمام الأخذ الزكوات، وبعثه واجب، والعاملون عليها أى الزكاة يعنى من نصبه الإمام فى أخذ العاملة من الزكوات.
Terjemah:
            Kelompok kelima adalah amiluu ‘aalaiha (amil dari zakat) termasuk kelompok amil adalah orang yang menjalankan, yang dibentuk oleh imam untuk mengumpulkan / mengambil zakat. Yang dimaksud amil zakat ialah orang yang ditugasi oleh imam (kepala Negara) untuk mengambil, melakukan dari harta zakat.
  1. I’anatu Al-Tholibin, III : 315
  2. Minhaju Al-Qiwim, : 115
  3. Ahkamu Al-Fuqoha, III : 8
هل يصح ماقره مجلس العلماء فى تشيقا ناس فى 3-7 مارس سنة 1954 بأرئس جمهورية إندونسيا الحالى ( سوكارنو ) ولى الأمر الضررى بالشوكة أولا؟
نعم يصح ذلك المقرر، كما فى الجزء الأول من شرح الإحياء وعبارته : الأصل العاشر أنه لو تعذر وجود الورع والعلم فيمن يتصدى للإمامة ..... إلى أن قال: وذلم محل، ونحن نقضى بنفوذ قضاء أهل السبغى فى بلادهم، لمسيس حاجتهم فكيف لانقضى بصحة الإمامة عند الحاجة والضرورة.

  1. Kifayatu Al-Ahyar, II : 159
قال الغزالى : واجتماع هذه الشروط متئذر فى عصرنا لخلو العصر عن المجتهد المستقل، فالوجه تنفيذ قضاء كل من ولاه سلطان ذوشوكة وإن كان جاهلا أوفاسقا لئلا تتعطل مصالح المسلمين. قال الإمام الرافعى وهذا أحسن.

Terjemah:
            Imam ghozali berkata lengkaplah persyaratan ini, pada zaman sekarang sulit, karena tidak adanya yang mencapai derajat mujtahid mustaqil maka konsekuensinya sah pemerintahnya orang yang mempunyai syaukah (kekuatan) meskipun bodoh, agar tidak terjadi kekosongan atas kemaslahatan orang-orang muslim. Dan imam Ar-Rofi’I mengatkan hal itu lebih baik.

Mas’lah:
            Bagaimana hukumnya zakat yang ditasyarufkan kepada masjid, madrasah, panti asuhan, yayasan-yayasan social, keagamaan dan lain-lain. Sabgaimana yang berlaku ditengah masyarakat umum?
Jawab:
            Memberikan zakat kepada masjid, madrasah, panti asuhan, yayasan-yayasan social, keagamaan dan lain-lain tidak boleh, akan tetapi ada pendapat : imam Qofal menukil dari sebagian ahli fiqih, zakat boleh ditasarufkan kepada sector-sektor tersebut diatas, atas nama sabilillah.
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Bughyatu al-murtasyidin, : 106
لايستحق المسجد شيئا من الزكاة مطلقا، إذلايجوز صرفها إلا لحر مسلم، ومثله مافى المزان الكبرى فى الجزء الثانى من باب قسم الصدقات، وعبارته : إتفق الأئمة الأربعة على أنه لايجوز أخراج الزكاة لبناء مسجد أوتكفين ميت.

Terjemah:
            Masjid tidak berhak sedikit pun secara mutlak mengambil bagian zakat, karena tidak boleh mentasarufkan zakat  kecuali pada orang yang merdeka yang muslim, begitu juga yang ada dalam kitab mizan kubro.
  1. Tafsir munir, I : 344
ونقل القفال من بعض الفقاء أنهم أجازوا صرف الصدقات إلى جميع وجوه الخير، من تكفين ميت وبناء الحصون وعمارة المساجد، لأن قوله تعالى "فى سبيل الله" فى الكل.
Terjemah:
            Imam Al-Qofal menukil dari sebagian ahli fiqih, bahwa mereka memperbolehkan mentasarufkan sodaqoh (zakat) kepada segala sector kebaikan, seperti: mengkafani mayat, membangun pertahanan, membangun masjid dst. Karena kata-kata sabilillah itu mencakup umum (semuanya).

Mas’lah:
            Apakah wajib zakat bagi penanam tanaman yang bukan tanaman zakawi (seperti yang sudah di nash) dengan tujuan di perdagangkan, seperti tanaman tebu, cengkeh dan sesamanya?

Jawab:
            Menanam tanaman yang bukan tanaman zakawi dengan niat diperdagangkan, apabila telah memenuhi syarat-syarat tijaroh, maka wajib zakat seperti zakat barang dagangan.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Busyrol Karim, II : 50
وروى أبو دود بإخراج الصدقة مما يعد للبيع
Terjemah:
            Imam Abu Dawud meriwayatkan, agar disuruh mengeluarkan sedekah (zakat) terhadap segala sesuatu yang diperuntuhkan dijual.

  1. Al-Hawasi al-madaniyah, II : 95
وقد قررنا أن مالازكاة فى عينه تجب فيه زكاة التجارة من الجذوع والتين والأرض إذ ليس فى هذه المذكورات زكاة عين، ومالازكاة فى عينه تجب فيه التجارة.
Terjemah:
            Dan telah kami tetapkan, sesungguhnya sesuatu yang tidak termasuk mal zakawi (harta benda yang harus di zakati menurut ainnya) wajib baginya zakat tijaroh (perdagangan). Seperti kayu, buah tin, tanah, karena jenis-jenisnya tidak termasuk di zakati secara ain (kondisi barang) dan segala yang tidak dizakati secara ain. Harus dizakati dengan zakat tijaroh, (perdagangan / 2,5 % ).

Mas’alah:
            Apakah wajib zakat usaha perniagaan mutakhir (modern) yang bergerak didalam bidang jasa, seperti perhotelan, pengangkutan dan sesamanya?

Jawab:
            Perniagaan jasa seperti perhotelan pengangkutan dan sesamanya, adalah termasuk ijaroh yang mengandung arti tijaroh, maka wajib zakat.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Kifayatu al-akhyar, I : 178
ولو أجر الشخص ماله أونفسه وقصد بالأجرة إذا كانت عرضاللتجارة تصير مال تجارة، لأن الإجارة معاوضة.
Terjemah:
            Jika seseorang memperkerjakan dirinya atau hartanya dengan tujuan dapat ongkos ketika jadi harta untuk tijaroh (perdagangan) maka jadilah harta perdagangan, karena ongkos adalah mu’awadloh.

  1. Al-Mauhibah, IV : 31( belum ketemu)
  2. Al-Majmu’, VI : 49
ومن أجر نفسه أو شخصا أخر بعوض من العروض بقصد التجارة صار ذلك العرض مال تجارة فتجب الزكاة.
Terjemah:
            Siapapun yang mempekerjakan dirinya atau orang lain dengan ongkos atau ganti rugi harta dengan tujuan berdagang, maka jadilah harta perdagangan. Dan wajib mengeluarkan zakat.

Mas’alah:
            Bagaimana yang berlaku secara umum dibidang keuangan dengan digantikannya peranan uang mas/perak oleh uang kertas, cek, obligasi, saham-saham perusahaan dan macam-macam kertas berharga. Apakah wajib zakat?

Jawab:
            Uang kertas, cek, obligasi, saham-saham perusahaan dan sesamanya, apabila telah mencapai seharga emas satu nisob dan telah haul, maka wajib zakat seperti emas.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Ahkamul Fuqoha, I : 57 (belum ketemu)
  2. Al-Mauhibah , IV
  3. Al-fiqih ala madzibil arba’ah, I : 605
جمهور الفقهاء يرون وجوب الزكاة فى الأوراق المالية، لأنهاحالت محل الذهب والفضة فى التعامل.

Terjemah:
            Jumhurul fuqoha (pembesar orang-orang ahli fiqih), memandang kewajiban zakat terhadap kertas berharga, karena ia diposisikan sebagaimana emas dan perak dalam transaksi.

Mas’alah:
            Bagaimana hukum pemotongan hewan dengan mesin?

Jawab:
            Hukum memotong hewan dengan mesin adalah halal, jika mesin dan cara memotongnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Pemotongnya seorang muslim/ ahlu kitab yang asli
  2. Alat mesin yang di pergunakan, merupakan benda tajam yang bukan dari tulang atau kuku
  3. Sengaja menyembelih hewan tersebtut
Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Bujairomi wahab, IV : 286
وشرط فى الذبح قصد اى قصد العين أو الجنس بالفعل (قوله قصد العين) وإن أخطأفى ظنه، أو الجنس فى الإصابة – ح ل – والمرد بقصد العين أو بالجنس بالفعل أى قصد إيقاع الفعل على العين أو على واحد من الجنس وإن لم يقصد الذبح.

Terjemah:
            Syarat alat untuk menyembelih harus tajam yang bisa melukai seperti pisau besi, bambu, batu, timah, emas, perak, kecuali (tidak boleh) dengan tulang dan kuku. Dengan dasar hadits shohih bukhori dan muslim: sesuatu yang dapat mengalirkan darah dengan menyebut nama Allah maka makanlah selama bukan dengan tulang dan kuku. Artinya yang di samakan adalah semua jenis tulang.
يعلم من قوله الآتى أو كونها جارية سباع او طير الخ ... حيث أطلق فيه ولم يشترط أن تقتله بوجه مخصوص. فيسفاد من الإطلاق أنه يحل مقتولها بسائر أنواع القتل.

Terjemah:
            Telah diketahui dari kata-kata yang akan datang adanya alat memotong hewan, dapat melukainya binatang  atau burung dst. Sekira dimutlakkan dan tidak disyaratkan, cara membunuh dengan cara yang khusus, maka dapat diambil pengertian halal apa yang di bunuh binatang dengan segala cara membunuh.




[1] Lengkapnya di maktabah asyamilah seperti diatas, I : Hal. 433
[2] Lengkapnya di maktabah assyamilah spt diatas, V : 243
[3] Lengkapnya di maktabah assyamilah spt diatas, I : 188
[4]
[5] Lengkapnya di maktabah assyamilah spt diatas, XIII : 216   
[6] Lengkapnya di maktabah assyamilah spt diatas, XVIII : 225
[7] Lengkapnya di maktabah assyamilah spt diatas, 9 : 41
[8] Lengkapnya di maktabah assyamilah spt diatas, II : 475




KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL SYURIYAH NU
WILAYAH JAWA TIMUR
DI PP ZAINUL HASAN GENGGONG KRAKSAN
TGL 22-23 NOPEMBER 1981
 

Mas’alah:
            Kalau ulama aswaja / NU telah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar apakah ulama yang bukan aswaja sudah terlepas dari kewajiban fardlu kifayah amar ma’ruf nahi munkar dan sebaliknya?

Jawab:
            Sudah terlepas dari kewajiban fardlu kifayah amar ma’ruf nahi munkar, selama amar ma’ruf nahi munkar dilakukan sesuai dengan aturannya.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Ahkamu Fuqoha, : 11/105 soal no 241 ( belum ditulis)
إن كان هناك من يكفيهم للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر فلا حرج عليهم السكوت ولزوم البيوت ، وإلايحرم عليهم ذلك، وأماالانتساب إلى إحدى الجمعيات الإسلامية فهو أفضل، بل قد يجب كماإذاتيقن  أوظن أنه لايؤدى إلى حفظ دينه وصونه عمايفسده إلابالإنتساب اليها اخذا لمافى الدعوة التامة والإحياء. ونصبه : وواجب على كل ففيه فرغ من فرض عينه وتفرغ لفرض الكفاية إلى من يجاور بلده من أهل السواد ومن العرب والأكراد وغيرهم ويعلمهم دينهم وفرائض شرعهم. إلى ان قال : فإن قام بهذا الأمر واحد سقط الحرج عن الآخرين والا عم الحرج الكافة أجمعين أماالعالم فلتقصيره فى الخروج ، أما الجاهل فلتقصيره ترك التعلم. الخ ... اعلم أن كل قاعد فى بيته اينما كان فليس خاليا فى هذا الزمان عن منكر من حيث التقاعد عن إرشاد الناس وتعليمهم وأكثر الناس جاهلون .

Terjemah:
            Jika telah ada orang yang dianggap cukup sudah menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak dosa bagi lainnya hanya diam dirumah (tidak berdakwah), kalau belum ada yang menyampaikan maka haram bagi semua orang hanya berdiam diri. Adapun menisbatkan (amar ma’ruf nahi munkar) kepada salah satu organisasi islam itu lebih utama. Bahkan terkadang menjadi wajib ketika diyakini atau diduga kuat, tidak akan tercapai dalam mempertahankan agama dan menjaga kelangsungannya dari pihak-pihak yang merusaknya kecuali dengan berpedoman kepada kitab: addawatu attamah dan kitab ihya’ ulumuddin, yang arti nasnya: “wajib bagi setiap orang pandai dalam agama untuk meluangkan waktu guna memenuhi fardlu kifayah kepada orang yang berdekatan daerahnya dari ahli kulit hitam, orang arab dan lainnya, dan wajib pula mengajari mereka terhadap agamanya dan kewajiban-kewajiban syari’atnya …..s/d…. jika sudah ada salah seorang yang melakukan (amar ma’ruf nahi munkar) maka gugur dosa dari lainnya. Jika tidak ada sekali, maka yang berdosa adalah semuanya manusia. Adapun dosanya orang ‘alim, karena ia tidak menghiraukan keharusan keluar (berdakwah). Sedangkan dosanyaorang yang bodoh, ia tidak memperhatikan kewajiban belajar (tidak mau belajar) dst. … perlu dimengerti, bahwa setiap orang yang hanya berdiam diri dirumahnya dimana saja, maka tidak dapat lepas dizaman ini dari kemungkaran, ketika hanya diam diri dari menunjukan manusia dan mengajarinya. Dan kebanyakan manusia itu bodoh (tidak tahu).

Mas’alah:
            Ada tanah wakaf untuk masjid, bolehkah di pakai untuk I’tikaf?

Jawab:
            Apabila tanah yang dimaksud wakif itu adalah “aku jadikan tanah ini sebagai masjid” maka walaupun belum di bangun masjid I’tikaf di atas tanah tersebut hukumnnya sah. Tetapi apabila yang dimaksud wakaf tersebut adalah tamlik kepada masjid dan oleh nadzir belum (tidak diresmikan) atau belum dibangun masjid. Maka hukumnya I’tikaf diatas tanah tersebut tidak sah.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-bajuri, I : 305
قوله فى المسجد اى الخالص المسجدية فلا يصح الإعتكاف فى غير المسجد كالمدارس والربط ومصلى العيد.
Terjemah:
Kata pengarang (dimasjid) artinya yang murni masjid , maka tidak sah I’tikaf diselain masjid, seperti dimadrasah, pondok, dan tempat-tempat sholat ‘id.
  1. Al-mahali, 11/76
قوله فى المسجد، ومنه روشنه ورحبته القديمة الخ
Terjemah:
            Kata pengarang (dimasjid) yang termasuk dihukumi masjid adalah emperanya, serambinya yang bangunan dulu (bersama dengan dalamannya masjid).
  1. Fatha al-wahab, I : 128
وثانيها مسجد للإتباع رواه الشيخان فلايصح فى غيره ولوهي للصلاة.
Terjemah:
            Yang kedua : harus masjid dengan dasar hadits Nabi yang diriwayatkan imam bukhori dan muslim, maka tidak sah I’tikaf diselain masjid meskipun disediakan untuk sholat.
  1. Syarwani, VI : 251
والأصح وإن نازع فيه الأسنوى وغيره أن قوله جعلت البقعة مسجدا من غير نية صريح فحيئد تصير به مسجدا وإن بات بلفظ مما مر لأن المسجد لايكون إلا وقفا.
Terjemah:
            Menurut yang asoh, meskipun ditentang imam asnawi dan lainnya bahwa perkataan seseorang : “saya jadikan tempat ini menjadi masjid” dengan tanpa niat itu shorih wakaf, maka dengan demikian (tempat itu) akan menjadi masjid. Meskipun dengan lafadz-lafadz yang telah tersebut diatas, karena masjid itu pasti wakaf. (tidak ada masjid yang bukan wakaf).

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya mengeluarkan zakat tijaroh sebelum haul (sebelum masuk satu tahun)

Jawab:
            Boleh asalkan yang menerima tersebut tetap menpunyai sifat mustahiq sampai waktu wajibnya, sehingga apabila yang menerima tersebut menjadi berubah (tidak mempunayai syarat sebagai mustahiq) pada waktu wajibnya, maka apabila muzakki pada waktu memberikan zakat mu’ajjalah itu memberitahukan bahwa zakat mu’ajjalah, maka muzakki boleh meminta kembali zakat tadi.

Dasar pengambilan Dalil:
  1. Muhadzab, I : 174
وإن عجل الزكاة فدفها إلى فقير فمات الفقير أو ارتد قبل الحول لم يجزه المدفوع عن الزكاة، وعليه أن يخرج الزكاة ثانيا، فإن لم يبين عند الدفع أنهازكاة معجلة لم يرجع وإن بين رجع .... الخ

Terjemah:
            Jika seseorang melakukan ta’jil zakat (mendahulukan zakat sebelum waktunya) kemudian diberikan kepada orang fakir, lalu orang fakirnya meninggal dunia, atau ia murtad sebelum haul (masuk waktunya wajib zakat). Maka apa yang diberikan (atas nama zakat tadi) tidak mencukupinya sebagai zakat. Dan bagi yang memberikan wajib, mengeluarkan zakat lagi ( yang kedua ). Jika dirinya tidak menjelaskan (pada waktu memberinya) bahwa itu zakat yang didahulukan (ta’jiluz zakat) maka ia tidak boelh meminta kembali (yang telah diberikan) namun apabila ia waktu member menyatakan : ini ta’jiluz zakat maka ia boleh meminta kembali (ganti rugi).

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya menyembelih qurban sebelum shalat idul adha dengan mengi’tikatkan sebagai aqiqoh sedang maliknya mengatakan qurban?

Jawab:
Menyembelih qurban oleh wakil yang mengi’tikadkan aqiqoh apabila dilakukan sesudahnya lewatnya kadar dua rokaat dan dua khotbah yang cepat sesudah terbitnya matahari pada hari qurban maka hukumnya sebagai berikut :
Qurbanya mudhohi adalah sah, dan I’tikat wakil tidak mempengaruhi niat berqurban.
Kalau penyembelihannya dilakukan oleh wakil sebelum waktu tersebut, maka qurbannya mudlohi tidak sah, dan wakil dloman ( mengganti ).
Adapun wakil yang mengi;tikadkan lain dari niat mudlohi, hukumnnya haram.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-anwar, 11/378
الثالث الوقت وهو إذا طلعت الشمش يوم النحر ومضى قدر وكعتين وخطبتين خفيفتين إلى غروبها من ثالث ايام التشريق ليلا ونهارا ويكره فى اليل فان ذبح قبل الوقت او بعده لم يكن ضحية ولا يحصل ثوابها بل صدقة ... انتهى
Terjemah:
             Yang ketiga adalah: waktu (penyembelihan qurban) yaitu ketika matahari telah terbit pada hari qurban dan telah melewati kira-kira dua rokaat dan dua khotbah ‘id yang ringan sampai terbenamnya matahari dihari tasyri’ yang ketiga ( tanggal 13 dzulhijjah ) baik siang ataupun malam dan makruh menyembelih qurban pada malam hari. Apabila disembelih sebelum waktunya atau setelahnya, maka tidak dinamakan qurban, dan tidak mendapatkan pahalanya qurban. Tetapi merupakan sodaqoh.

  1. Kifayatu al-akhyar, I : 280
والوكيل أمين فيها لايضمن إلا بتقريط، الوكيل أمين فيما وكل فيه فلايضمن الموكل فيه إذا تلف إلا أن يفرط لأن الموكل استأمنه فيضمنه ينافى تأمينه كالمودع.

Terjemah:
            Wakil adalah orang yang dipercaya dalam amanat, ia tidak didenda kecuali ia mengabaikan (khianat). Wakil adalah orang dipercaya dalal sesuatu yang diwakilinya, maka ia tidak perlu mengganti terhadap kerugian yang diwakilkan ketika rusak, kecuali apabila ia mengabaikannya. Karena orang yang mewakilkan telah mempercayakan kepada wakil . maka wakil supaya mengganti kerugian apabila ia meniadakan sifat amanahnya (kepercayaan) seperti orang yang dititipi.

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya memperbaharui nikah tajdidunikah? Kalau boleh apakah harus membayar mahar lagi?

Jawab:
            Hukumnya tajdidunnikah (memperbaharui nikah) boleh, bertujuan untuk memperindah atau ihtiyat dan tidak termasuk pengakuan talak (tidak wajib membayar mahar) akan tetapi menurut imam yusuf al-ardzabili dalam kitab anwar wajib membayar mahar karena sebagai pengakuan jatuhnya talak.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. At-tuhfa, VII : 391
أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلًا لَا يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ الْأُولَى بَلْ وَلَا كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ إلى أن قال وماهنا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَحَمُّلٍ أَوْ احْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ.
Terjemah:
            Sesungguhnya tujuan suami melakukan aqad nikah yang kedua (memperbaharui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggung jawab atas nikah yang pertama, dan juga bukan merupakan kinayah dari pengakuan tadi. Dan itu jelas ….s/d … sedangkan apa yang dilakukan suami di sini (dalam memperbaharui nikah) semata-mata untuk memperindah atau berhati-hati.
                                               
( وَلَوْ تَوَافَقُوا ) أَيْ الزَّوْجُ وَالْوَلِيُّ وَالزَّوْجَةُ الرَّشِيدَةُ فَالْجَمْعُ بِاعْتِبَارِهَا أَوْ بِاعْتِبَارِ مَنْ يَنْضَمُّ لِلْفَرِيقَيْنِ غَالِبًا ( عَلَى مَهْرٍ سِرًّا وَأَعْلَنُوا بِزِيَادَةٍ فَالْمَذْهَبُ وُجُوبُ مَا عُقِدَ بِهِ ) أَوَّلًا إنْ تَكَرَّرَ عَقْدٌ قَلَّ أَوْ كَثُرَ اتَّحَدَتْ شُهُودُ السِّرِّ وَالْعَلَنِ أَمْ لَا لِأَنَّ الْمَهْرَ إنَّمَا يَجِبُ بِالْعَقْدِ فَلَمْ يُنْظَرْ لِغَيْرِهِ وَيُؤْخَذُ مِنْ أَنَّ الْعُقُودَ إذَا تَكَرَّرَتْ اُعْتُبِرَ الْأَوَّلُ مَعَ مَا يَأْتِي أَوَائِلَ الطَّلَاقِ أَنَّ قَوْلَ الزَّوْجِ لِوَلِيِّ زَوْجَتِهِ زَوِّجْنِي كِنَايَةٌ بِخِلَافِ زَوَّجَهَا فَإِنَّهُ صَرِيحٌ أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلًا لَا يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ الْأُولَى بَلْ وَلَا كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ وَلَا يُنَافِيهِ مَا يَأْتِي قُبَيْلَ الْوَلِيمَةِ أَنَّهُ لَوْ قَالَ كَانَ الثَّانِي تَجْدِيدَ لَفْظٍ لَا عَقْدًا لَمْ يُقْبَلْ لِأَنَّ ذَاكَ فِي عَقْدَيْنِ لَيْسَ فِي ثَانِيهِمَا طَلَبُ تَجْدِيدٍ وَافَقَ عَلَيْهِ الزَّوْجُ فَكَانَ الْأَصْلُ اقْتِضَاءَ كُلِّ الْمَهْرِ وَحَكَمْنَا بِوُقُوعِ طَلْقَةٍ لِاسْتِلْزَامِ الثَّانِي لَهَا ظَاهِرًا وَمَا هُنَا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَحَمُّلٍ أَوْ احْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ.[1]


  1. Al-anwar, II : 156
ولو جدد رجل نكاح زوجته لزمه مهر آخر لأنه إقرار بالفرقة وينتقض به الطلاق ويحتاج إلى التحليل فى المرة الثالية.
Terjemah:
            Jika seorang suami memperbaharui nikah kepada isterinya, maka wajib member mahar (mas kawin) karena ia mengakui perceraian dan memperbaharui nikah termasuk merusak cerai/talaq (menjadi suami istri lagi). Kalau dilakukan sampai tiga kali, maka diperlukan muhalli.

Mas’alah:
            Bagaimana mendo’akan kemantenan semoga hidup rukun dan lekas manunggal, bisa cocok bagaikan tampar. Yang dengan arti satu sama lain tidak pisah lagi.

Jawab:
            Hukumnya sunah

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-futuhat al-robaniyah VI : 76-77
السنة أن يقال له بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما بخير ( قوله وجمع بينكما بخير) اى بأن تجتمعا على الطاعةوالأمر بالمعروف والنهى عن المنكر وحسن  المعاشرة والموافقة لمايدعو لدوام الإجتماع وحسن الاستمتاع انتهى .
Terjemah:
            Sunnah didoakan dengan doa : mudah-mudahan Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu, dan mengumpulkan antara kamu berdua dengan baik (pengertian: mengumpulkan diantara kamu berdua) : yaitu; kamu berdua kumpul atas dasar ta’at (pada Allah), amar ma;ruf nahi munkar, dan baiknya hidup berumah tangga dan sesuai apa yang didoakan untuk berkumpul/rukun yang abadi dan mesra.

Mas’alah:
            Banyak ulama kita tidak memasukan anak-anaknya kedalam madrasah-madrasah/ sekolah agama. Kalau mereka wafat, maka kitab-kitabnya akan menjadi hiasan almari. Bolehkah kita mengikuti cara mereka didalam mendidik anak-anaknya?

Jawab:
            Cara ulama yang tidak memberikan pendidikan agama kepada putra-putrinya itu tidak boleh di ikuti.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Minhaju A-abiddin hal. 20
فاعلم أن هذه المدارس والرباطات بمنزلة حصن حصين يحتصن بها المجتهدون عن القطاع والسراق وإن الخارج بمنزلة الصحراء تدور فيها فرسان الشيطان عسكرا فتسلبه أو تستأسره فكيف حاله إذا خرج إلى الصحراء وتمكن العدو منه من كل جانب يعمل به ماشاء. فإذن ليس لهذا الضيف الا لزوم الحصن.
Terjemah:
            Ketahuilah, sesungguhnya madrasah-madrasah dan pondok-pondok pesantren ini diposisikan sebagai benteng yang kokoh, menjaga para mujtahid dari sabotase perampok dan pencuri. Dan sesungguhnya yang diluar itu diposisikan sebagai tanah lapang yang dilewati syaitan-syaitan jalanan yang siap merampasnya atau menguasainya, maka bagaimana kondisinya jika mereka keluar ketanah lapang, dan musuh-musuh dengan leluasa dapat berbuat apa saja yang ia kehendaki. Maka kalau demikian bagi orang yang lemah wajib untuk menetap dibenteng-benteng pertahanan.

  1. Al-nashaihu al-diiniyah 62
وأهم مايتوجه على الوالد فى حق أولاده تحسين الآداب والتربية ليقع تشؤهم على محبة الخير ومعرفة الحق وتعظيم أمور الدين والاستهانة بأمور الدنيا وإيثار أمور الآخيرة فمن فرط فى تأديب أولاده وحسن تربيتهم وزرع فى قلوبهم محبة الدنيا وشهواتها وقلة المبالاة بأمور الدين ثم عقوه بعد ذلك فلايلومن إلانفسه والمفرط أولى بالخسارة فيما ذكرناه.
Terjemah:
            Yang terpenting, tantangan orang tua terhadap hak anaknya adalah memperbaiki Adab dan mendidiknya, agar pertumbuhan anak-anaknya cinta kebaikan, mengetahui yang hak, mengutamakan urusan agama, mengesampingkan urusan dunia, dan mengutamakan urusan akhirat. Barang siapa ceroboh mendidik dan ceroboh dalam kebaikan pendidikannya. Dan menanamkan pada hati anaknya kecintaan terhadap dunia dan kesenangan dunia, serta kepeduliannya terhadap urusan agama sangat minim (sedikit) kemudian setelah itu anak berani menenteng orang tuanya maka jangan menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Orang yang ceroboh lebih tepat menyandang kerugian. Kebanyakan orang yang berani pada orang tuanya, keras hatinya di zaman ini penyebabnya adalah ceroboh terhadap apa yang saya sebutkan tadi.

  1. Tuhfatu al-murid 117
وحفظ دين ثم نفس مال ثم نسب "ومثلها عقل وعرض قد وجب والمراد بحفظه صيانته من الكفر وانتهاك حرمة المحرمات ووجوب الواجبات، فانتهاك حرمة المحرمات أن يفعل المحرمات غير مبال بحرمتها، وانتهاك وجوب الواجبات أن يترك الواجبات غير مبال بوجوبها. انتهى

Terjemah:
            Dan menjaga agama, kemudian diri, harta dan nasab, dan sesamanya adalah akal dan harga diri adalah hal yang wajib. Yang dimaksud menjaganya adalah menjaga dari kekufur. Dan menanggulangi haramnya sesuatu yang haram. Dan wajibnya beberapa kewajiban, maka menanggulangi keharaman yang dimaksudkan adalah : melakukan keharaman tanpa memperdulikan keharamannya. Membentengi kewajiban yang dimaksudkan adalah meninggalkan kewajiban tanpa memperdulikan kewajiban atas hal yang diwajibkan.

  1. Irsyadu al-Huyaro Fi tahdiri al-Muslimin min madarisi al-nasoro li syeh yusuf al-nabawi.
اعلم أن من أعظم المصائب على الملة الإسلامية والامم المحمدية ماهو جار فى هذه الأيام فى كثير من بلاد الاسلام من إذخال بعض جهلة المسلمين أولادهم فى المدارس النصرانية واللغات الأفرانجية، ولايخفى أن ذلك كفر صريح ، ولا يرضى به الله ولاسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وسيدنا المسيح عليه السلام.
Terjemah:
            Ketahuilah sesungguhnya lebih besar-besarnya musibah atas agama islam dan umat Muhammad ialah apa yang terjadi dihari-hari ini kebanyakan dari daerah muslim (Negara islam) yang sebagian kebodohan orang islam adalah memasukan anak-anaknya kesekolah-sekolah Kristen (nasroni) dan bahasa inggris. s/d …. Tidak ada ragu0ragu bahwa hal seperti itu jelas kufur dan tidak mendapat ridlo Allah dan Muhammad Saw dan Nabi Isa as.

  1. Tanbihu al-anam
ماينبغى التنبيه له لأهل الشركة منع إذخال أولادهم إلى مكاتب النصارى لأن دخول أولاد المسلمين فى مكاتبهم مما يوجب الإسلاخ من دينهم بالكلية بإدخالهم الشبهة عليه فى دينهم. انتهى

Terjemah:
            Sesuatu yang terbaik mengingatkan baginya bagi semua masyarakat adalah melarang memasukan anak-anaknya pendidikan orang-orang Kristen (nasrani). Karena masuknya anak-anak muslim pendidikan mereka (orang Kristen) hilangnya agamanya secara keseluruhan dengan  masuknya anak-anak muslim yang menyerupai agama mereka (orang-orang Kristen).

Mas’alah:
            Ada dua pendapat menurut as-syafi’I tentang batalnya wudlu bagi orang yang disentuh perempuan lain yang dipermasalahkan : manakah yang paling utama untuk kita ikuti? Mengikuti pendapat kedua dari imam syafi’I itu atau pindah madzab lain? Dan bagaimana hukumnya pindah madzab pada waktu itu?

Jawab:
            Mana yang lebih utama, ada dua pendapat:
Pertama            : boleh memilih antara qoul tsani dan pindah madzab lain.
Kedua              : lebih baik taqlid pada qoul tsani.
Sedangkan pindah madzab pada waktu tertentu adalah boleh.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Hasyiyah ibnu Hajar ala al-adloh fi manasiki al-hajj li al-nawawi, hal. 236
وفى الملموس قولان للشافعى رحمه الله، أصحهما عند أكثر أصحابه أنه ينتقض وضؤءه وهو نصه فى أكثر كتبه. والثانى لا ينتقض وضوءه واختاره جماعة قليلة فى اصحابه والمختار الاول.
Terjemah:
            Yang asoh dan kedua pendapat menurut kebanyakan santrinya (sahabatnya) hal itu merusakan (membatalkan) wudlunya. Pendapat itu merupakan nash dari imam syafi’I dalam kebanyakan kitabnya sedangkan pendapat kedua tidak membatalkan wudlunya dan pendapat ini dipilih oleh kelompok kecil dari santrinya. Yang muhtar (terpilih) adalah pendapat yang pertama.

  1. Bughyatul Mustarsyiddin, 9
يجوز تقليد ملتزم مذهب الشافعى غير مذهبه أو المرجو للضرورة اى المشقة التى لا تحتمل عادة. وفى سبعة كتب مفيدة ص مانصه : واعلم أن الأصح من كلام المتأخرين كالشيخ ابن حجر وغيره أنه يجوز الإستقال من مذهب إلى مذهب من المذاهب المدوية ولو لمجرد التشهى سواء إنتقل دواما أو بعض الحادثات.
Terjemah:
            Boleh taqlid (mengikuti) bagi yang tetap yang tetap madzab imam syafi’I pada selain madzabnya, atau pada pendapat yang marjuh karena dhorurot. Artinya masyakot (sulit) yang tidak menjadikan kebiasaan. Dalam kitab sab’atul kutubi almufidah di jelaskan : ketahuilah sesungguhnya yang ashoh menurut pendapat ulama mutaakhirin (yang akhir-akhir) seperti syekh ibnu hajar dan lainnya. Yaitu boleh pindah madzab kemadzab lain dari beberapa madzab yang telah dibukukan, meskipun hanya untuk keinginan, baik pindahnya itu untuk selamanya atau didalam sebagian kejadian.

  1. Sab’atu Kutubi al-mustafidah, hal. 160 (belum ditulis)

Terjemah:
            Yang ashoh, sesungguhnya orang awab (al-am) boleh memilih antara mengikuti pendapat orang yang dikendaki meskipun pendapat yang diungguli disisinya, padahal ada yang lebih afdlol. Selama ia tidak berturut-turut mengikuti yang ringan (rukhsoh) bahkan meskipun berturut-turut (juga boleh ) menurut apa yang dikatakan oleh imam izzuddin bin ‘abdi salam dan lain-lainnya.

  1. Hamisy I’anatu al-Tholibin, II : 59
وقال السيوطي: كثيرا ما يقول أصحابنا بتقليد أبي حنيفة في هذه المسألة، إذ هو قول للشافعي قام الدليل على رجحانه. وحينئذ تقليد أحد هذين القولين أولى من تقليد أبي حنيفة.[2]
Terjemah:
            Dengan demikian, mengikuti salah satu dari dua pendapat ini lebih baik dari mengikuti madzab abi hanifah.

  1. Al-Fawaidu Al-Madaniyah al-Qubro (belum  ditulis)

Terjemah:
            Mengikuti pendapat atau wajah dhoif  didalam madzabnya dengan syarat-syaratnya, itu lebih utama dari pada mengikuti madzab-madzab lain, karena mengumpulkan sarat-saratnya.

  1. Jam’ur Risalatain Fi ta’addudil Jum’atain, hal. 14 (belum ditulis)

Terjemah:
            Taqlid (mengikuti) pendapat qoul qodim itu lebih baik dari pada mengikuti madzab yang berbeda dengan (madzabnya). Karena itu memerlukan menjaga madzab yang diikutinya. Dalam wudlu, mandi dan semua syarat-syarat. Hal ini sulit bagi selain yang mengetahui. Maka berpegang teguh kepada pendapat-pendapat imanya yang dhoif  itu lebih baik dari pada keluar  menuju madzab yang lain.

Mas’alah:
            Andaikann jam’iyah NU baik di tingkat cabang wilayah atau pengurus besar membuat suatu ketentuan : bahwa semua anggota DPR/DPRD yang dicalonkan oleh jam’iyah NU apabila telah dilantik maka diwajibkan member dana kepada jam;iyah sekian persen dari penghasilan bulanan anggota DPR/DPRD.

Pertanyaan:
            Apakah ketentuan semacam itu menjadi wajib syar’an yang harus di taati dengan pengertian yusabu ‘ala failihi wayu ‘aqobu ‘ala tarkihi?

Jawab:
            Hukumnya anggota DPR menetapi janji kepada jam’iyah NU itu wajib syar’an sebab : termasuk isti’jar al manafi’ atau iqrar Min babi wujubi itha’ati ulil amri.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-I’anatu al-tholibin, III : 109.

Terjemah:
            Betul berlaku baginya menjual belikan hak melewati. Hal ini usaha memiliki kemanfaatan dengan ganti rugi yang jelas (ma’lum). Sesungguhnya itu bukan murni jual beli tetapi disitu berbau sewa. Dikatakan jual beli karena memandang sighotnya (transaksinya) semata dan dikatakan sewa/kontrak menurut artinya …..s/d.. adapun yang terjadi bagi beban atau tanggung jawab. Maka syarat didalamnya harus menerima ongkos (seketika) dalam satu majlis (waktu transaksi).

Mas’alah:
            Sama-sama kita ketahui bahwa jenazah yang tergilas oleh kendaraan mendapat visum dari dokter baik lahir maupun batin. Sampai-sampai di bedel dada dan otaknya, padahal hal ini terlarang. Bolehkah kita diam dan tidak berjuang untuk merubah aturan semacam ini?

Jawab:
            Tidak boleh, untuk membatasi kemungkinan- kemungkinan lain, maka perlu adanya usaha-usaha melalui lembaga perundang-undangan guna meluruskan masalah ini.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-Asybah Wannadloir, hal. 107
Terjemah:
            Tidak perlu diingkari hal yang masih dipertentangkan (muktalaf alaih) namun perlu di ingkari hal yang sudah menjadi kesempatan (mujma’ alaih) yang dilanggar.

  1. Bughyatul Mustarsyidin, hal. 251
ولا يجوز لأحد التقاعد عن ذالك والتغافل عنه وإن علم أنه لايفيد
Terjemah:
            Tidak boleh bagi seseorang diam diri terhadap hal tersebut (kemungkaran) dan melupakan dirinya, meskipun diketahui tidak akan bertindak (sia-sia).

Mas’alah:
            Banyak di pedasaan, perkotaan kegiatan-kegiatan social yang dilakukan oleh umat islam yang dinamakan kumpulan kematian denghan syarat /perjanjian antara lain:
Tiap anggota harus membayar Rp. 50,_ tiap bulan
Tiap-tiap anggota yang meninggal dunia mendapat belanja kematian rata-rata Rp. 2000,-

Pertanyaan:
            Bagi anggota yang sudah lama, sudah barang tentu jumlah uang yang dibayarkan tiap bulan tadi cukup banyak misalnya. Misalnya Rp. 5000,- tetapi anadaikata anggota tersebut wafat tentunya dia hanya mendapat bantuan  belanja kematian dari kumpulan tadi sebesar Rp. 2000,- sehingga menurut perhitungan uang anggota tersebut masih sisa Rp. 3000,-
Uang sisa tadi menjadi milik siapa?
Bagi anggota yang masih baru sudah barang tentu uang yang dibayarkan kepada kumpulan masih sedikit, misalnya Rp. 500,- tetapi andaikata dia wafat maka tentu akan mendapat belanja kematian sebanyak Rp. 2000,-
Uang tambahan ini milik siapa?

Jawab:
            Uang tersebut milik jam’iyyah.

Dasar Pengambilan dalil:
  1. Dalilu al-falihin jilid. II : 576-577

Terjemah:
            Dari abi musa al-as’ari Ra. Ia berkata : Rosulullah Saw, bersabda: sesungguhnya golongan as’ari kehabisan bekal di pertempuran, atau semakin menipis makanan keluarganya dikota (madinah). Maka mereka semua mengumpulkan apa yang ada disisinya pada pakaian satu, kemudian membaginya diantara mereka semua dengan sama dalam satu tempat. Mereka semua golongan saya dan saya adalah termasuk dari golongan mereka. (HR. mutafaq alaih).

  1. Takmilah al-majmu’, XIII : 155

Terjemah:
            Terkadang dikatakan sesungguhnya transaksi (ikatan) kepercayaan berlaku selamanya bersama perkumpulan yang terbagi (giliran) bisa jadi dikatakan perkumpulan ta’awuniyah (tolong menolong) atas kebaikan , dan berbuat baik untuk menolong teman-teman yang masuk dalam daftar giliran.


  1. Asy syarwani, VI : 298

Terjemah:
            Adapun hibah ( pemberian) untuk tujuan /jalan yang umum, maka imam ghozali dala kitab al-wajiz menyakini atas diperbolehkannya adan imam al-rofi’I diam dalam hal itu. Kemudian ia menyatakan boleh jika dikatakannya : tujuan yang umum itu menempati kedudukan masjid maka boleh memberikan hak milik dengan hibah. Seperti bolehnya waqof terhadapnya maka yang menerima adalah al-Qodhi. Persesuaian menyamakan hibah untuk umum dengan waqof padanya didalam keafsahanya adalah tidak ada syarat harus diterima.

  1. Al-jami’lilahkamil Qur’an Qurtubi, hal. 33

Terjemah:
            Wahai orang-orang yang beriman tepatilah dengan janji. Az zujaj berkata artinya : tepatilah kalian semua dengan janji Allah atas kalian semua dan janji kalian, sebagian diantara kalian dengan sebagian yang lain

  1. Riyadlu sl-sholihin wa-syarhi dalailu al-falahin, II : 576-577

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya waris gono gini?

Jawab:
            Hukumnya boleh

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Bughyatul Mustarsyidin, 159

Terjemah:
            Telah bercampur harta benda suami istri dan tidak diketahui milik siapa yang lebih banyak, dan tidak ada tanda-tanda yang dapat membedakan salah satu dari keduanya, dan telah terjadi antara keduanya firqoh (cerai) s/d … betul. Apabila telah terjadi kebiasaan/ adat yang berlaku, bahwa salah satu dari keduanya lebih banyak kerjakerasnya (cara mendapatkannya) daripada satunya, maka perdamaian (suluh) dan saling member atas sesame. Apabila tidak ada kesepakatan atas sesuatu dari hal tersebut apa dari harta benda yang berada pada diri suami, maka yang dibenarkan adalah pendapat suami dengan disertai sumpahnya bahwa itu miliknya. Apabila harta itu ditangan keduanya maka masing-masing menyumpah yang lainnya kemudian hartanya dibagi dua.


KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL SYURIAH NU
JAWA TIMUR
DI PP SALAFIYAH SUKOREJO ASENBAGUS
SITUBONDO
mas’alah:
            bolehkah selain mujtahid baik mutlak maupun muqoyad mengqiyaskan suatu masalah yang terdapat didalam kitab-kitab fiqih mempunyai persamaan?

Jawab:
            Tidak boleh secara mutlak

Dasar pengambilan Dalil:
  1. Bughyatul Mustarsyidin

Terjemah:
            Telah dijelaskan dalam fatawi ibnu hajar : dilarang memberi fatwa bagi orang yang membaca kitab belum ahlinya, kecuali terhadap ilmu (pengetahuan) yang sudah dimengerti dari madzabnya dengan pengetahuan yang sudah yakin (kebenarannya) seperti wajibnya niat dalam wudlu dan batalnya wudlu dengan memegang dzakarnya. Benar jika ia nukil (mengambil) hukum dari mufti lain dari kitab yang sudah dipercaya maka itu boleh dan itu pemindahan pendapat bukan member fatwa. Dan tidak boleh bagi dirinya member fatwa terhadap sesuati yang tidak ditemukan bentuk tertulis meskipun ditemukan persamaannya. Dengan demikian orang yang mahir betul dalam fiqih ialah orang yang menguasai ilmu ushulnya imam mereka pada setiap bab, dan ia masuk tingkatan ashabil wujuh 9orang-orang yang punya hak pendapat yang sah). Dan ini sudah putus sejak 400 tahun yang lalu (tidak ada generasi penggantinya).

Mas’alah:
            Ada orang berdomisilir di malang umpanya kemudian ia meninggal di Surabaya. Lalu mayatnya sebelum di sholati di Surabaya (tempat tinggal) di bawa ke malang (tempat ia berdomisili). Bagaimana memindah mayat yang belum disholati itu dari rempat tinggal?

Jawab:
            Ada perbedaan pendapat antara imam baghowi yang mengatakan makruh dan imam mutawalli yang mengatakan haram.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-Mahali, I : 351-352

Terjemah:
            Haram memindah mayit sebelum di qubur dari daerah mayitnya kedaerah lain untuk dikubur disitu. Sebaian pendapat mengatakan makruh kecuali jika dekat dengan makkah, madinah atau baitul muqoddas. Maka sebaiknya dipindah kesana ada keutamaan mengubur disana, hal ini sesuai nashnya imam syafi’I. dan imam baghowi, dan lainnya mengatakan makruh seperti imam mutawalli dan lainnya mengatakan haram (memindah).

Mas’alah:
            Banyak terjadi di kota-kota terutama di kota-kota besar pesawat telpon yang di sediakan untuk umum, siapa saja bisa memakai (menggunakan) asal ia memasukan uang logam Rp. 50 umpanya kedalam tempat yang disediakan (sudah barang tentu uang itu lepas dari milik orang yang memasukkan ). Kemudian uang tersebut dimiliki oleh pemilik pesawat telepon (Telkom dan sebagainya ). Demikian itu dapatkah di benarkan menurut syasi’at dan termasuk mu’amalah apakah itu?

Jawab :
            Adalah mu’amalah ijaroh shohihah (aqad sewa yang sah ) .

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Mughni al-Muhtaj
وَالْكِتَابَةُ بِالْبَيْعِ وَنَحْوِهِ عَلَى نَحْوِ لَوْحٍ أَوْ وَرَقٍ أَوْ أَرْضٍ كِنَايَةٌ.
Terjemah:
            Jual beli atau sesamanya dengan cara (transaksi) menggunakan tulisan pada papan, kertas, atau tanah adalah cukup (dianggap sah).

فَإِنْ قَالَ : بِعْ وَأَشْهِدْ لَمْ يَكُنْ الْإِشْهَادُ شَرْطًا صَرَّحَ بِذَلِكَ الْمَرْعَشِيُّ ، وَاقْتَضَاهُ كَلَامُ غَيْرِهِ وَالْكِتَابَةُ بِالْبَيْعِ وَنَحْوِهِ عَلَى نَحْوِ لَوْحٍ أَوْ وَرَقٍ أَوْ أَرْضٍ كِنَايَةٌ فِي ذَلِكَ ، فَيَنْعَقِدُ بِهَا مَعَ النِّيَّةِ بِخِلَافِ الْكِتَابَةِ عَلَى الْمَائِعِ وَنَحْوِهِ كَالْهَوَاءِ ، فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ كِنَايَةً لِأَنَّهَا لَا تَثْبُتُ ، وَيُشْتَرَطُ الْقَبُولُ مِنْ الْمَكْتُوبِ إلَيْهِ حَالَ الِاطِّلَاعِ لِيَقْتَرِنَ بِالْإِيجَابِ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ .[3]

Masalah :
            Dewasa ini banyak madaris diniyah islamiyah yang hari liburnya hari ahad bukan hari jum’at. Apakah ini tidak termasuk dalam maqolah :
 "من تشبه بقوم فهو منهم "
Sehingga hukumnya haram?
Dan apabila tidak termasuk dalam maqolah tersebut, sampai dimanakah batas-batas tasyabbuh yang haram itu?

Jawab:
            Jika bertujuan untuk syi’ar kafir maka haram dan apabila tidak ada tujuan sama sekali maka hukumnya makruh.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Ahkamu Fuqoha 1/25 masalah no. 33

Terjemah:
            Ketika berpakaian (tingkah laku ) menyerupai orang kafir, untuk syi’ar kekafirannya maka ia kafir dengan pasti ….s/d … seandainya tidak bertujuan menyerupai mereka sama sekali tidak apa-apa baginya tetapi itu makruh.

  1. Ahkamu Fuqoha 11/239


Terjemah:
Apa pengertian tasabuh (menyerupai) pada sabda Nabi Saw : “ barang siapa yang menyerupai kaum, maka dia dari golongannya” di zaman sekarang. Yaitu maksudnya seperti yang ada pada fathul barri.

  1. Fathu Al-Barri, X : 273

Terjemah:
            Syekh Abu Muhammad bin Abi Hamzah berkata menurut dhoirnya lafadz adalah melarang menyerupai pada setiap sesuatu (dari kafir) begitu juga dalil-dalil lain mengatakan. Maksudnya menyerupai (orang-orang kafir yang dihukumi haram) adalah menyerupai dalam pakaian, hiasan, sifat-sifatnya dan sesamanya bukan menyerupai dalam urusan kebaikan.

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya mengembala binatang di maqbaroh dan bagaimana juga hukumnya makan di maqbaroh?

Jawab :
            Memasukan binatang di kuburan itu haram kalau kuatir mengotori dan menajisi. Kalau tidak hukumnya makruh.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Bughya al-Murtasyidin, hal. 94

Terjemah :
            Memasukkan binatang ketanah kuburan dan menginjaknya kuburan itu sangat makruhnya di banding kemakruhan orang (anak adam) menginjak dengan dirinya sendir. Dan banyak ulama yang berpendapat haram duduk-duduk diatasnya, karena dasar hadits muslim, jumhurul ulama mengartikan haram duduk diatas kubur itu untuk qodli hajat (kencing / berak). Tidak ada keraguan bagi orang yang melihat hewan piaraan kencing diatas kuburan wajib mencegahnya, meskipun binatang itu bukan mukallafah (terbebani hukum) tapi orang yang melihat adalah mukalaf. Menjadi sangat parah kemakruhannya bila kuburan itu milik orang terkenal/tokoh dengan kekuasaan atau keilmuan (ulama), apalagi dia terkenal dari keduanya (alim juga penguasa) seperti syekh isma’il al-hadromiy, bahkan dihawatirkan hal itu (pelakunya) termasuk penentang yang boleh diperangi menurut hadits Quds, karena mayat akan merasa sakit seperti sakitnya orang yang hidup. Adapun menjadikan temapat makamnya binatang dikuburan, makan-makanan dikuburan dan menyibukkan sesuatu dari makan di kubur itu haram secara mutlaq.

Mas’alah :
            Bolehkah kita tetap diam tentang adanya komplek/tempat pelacuran yang rumahnya dibangun begitu rupa?

Jawab :
            Tidak Boleh

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Hadits Nabi Saw


Terjemah:
            Dalam hadits disebutkan : barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya (kekuasaan)  jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka harus ingkar dalam hatinya, yang demikian itu adalah lemahnya iman (minimnya orang beriman).

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya menempatkan pengantin di atas pelaminan/kuade sebagaiman yang berlaku sekarang ?

Jawab :
            Boleh Asalkan tidak mendatangkan munkarot dan aman dari fitnah.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-ittihaf, VII : 248
ومن المنكر حضور النسوة المنكشفات الوجوه
Terjemah:
            Termasuk kemungkaran adalah datangnya (menampakkannya diri) perempuan-perempuan yang terbuka wajah-wajahnya.

Mas’alah :
            Ada sebagian tanah yang diwakafkan untuk kuburan sedangkan hasilnya diwakafkan ke madrasah mengingat kebutuhan yang mendesak kemudian tanah tersebut dijual dengan harga yang mahal (letaknya dikota). Kemudian hasil penjualnya di belikan untuk ganti kuburan yang asli. Sedangkan kelebihannya uangnya untuk madrasah termasuk kesejahteraan guru . Bagaimanakah hukumnya penjualan tanah tersebut dan bagaimana pula hukumnya pergantian tanah kuburan itu?

Jawab:
            Tidak boleh dan tidak sah.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Raudlotu al-tholibin, IV : 438 – 439 dan III : 175

Mas’alah :
            Ada orang kawin setelah dukhul (bersetubuh) kemudian cerai (thalaq) dalam keadaan belum mempunyai anak. Kemudian zaujul mutholliq (suami yang pertama) kawin lagi dengan perempuan lain dan mempunyai anak laki-laki. Sedangkan zaujat muthollaqoh juga kawin lagi dengan laki-laki lain dan mempunyai anak perempuan. Kemudian anak laki-laki dari zaujul mutholiq kawin dengan anak perempuan dari zaujat muthollaqoh. Apakah pernikahan itu sah atau tidak ? dan apakah anak perempuan istri yang dithalaq itu tidak termasuk rabibah dari suami yang menalaq?

Jawab :
            Anak perempuan dari istri yang ditalaq termasuk rabibah dari suami yang menalaq.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. I’anatut Tholibbin, III : 292
بزيادة (قوله: بخلاف أمها) أي فإنها تحرم، ولو لم يطأها، لكن بشرط صحة العقد عند عدم الدخول، كما تقدم (قوله: ولا تحرم بنت زوج الام) أي على ابن الزوجة، وهذا يعلم من قوله وكذا فصلها، أي الزوجة. ومثلها أم الزوج فلا تحرم على ابن زوجته. (قوله: ولا أم زوجة الاب) أي ولا تحرم أم زوجة أبيه عليه وهذا يعلم من قوله تحرم زوجة أصل، ومثلها بنت زوجة أبيه فلا تحرم عليه. (وقوله: والابن معطوف على الاب) أي ولا يحرم أم زوجة ابنه، ومثلها بنت زوجة ابنه. وهذا يعلم من قوله وزوجة فصل. (والحاصل) لا تحرم بنت زوج الام ولا أمه ولا بنت زوج البنت ولا أمه ولا أم زوجة الاب ولابنتها ولا أم زوجة الابن ولابنتها ولا زوجة الربيب ولا زوجة الراب وهو زوج الام لانه يربيه غالبا (قوله: ومن وطئ امرأة) أي ولو في الدبر أو القبل ولم تزل البكارة. ومثل الوطئ استدخالها ماء السيد المحترم حال خروجه أو ماء الاجنبي بشبهة. ويشترط في الواطئ أن يكون حيا، وأن يكون واضحا، وخرج بالاول الميت فلا تحريم باستدخالها ذكره، وبالثاني الخنثى فلا أثر لوطئه لاحتمال زيادة ما أولج به وخرج بقوله وطئ ما إذا باشرها بغير وطئ فلا تحرم (قوله: بملك) الباء سببية متعلقة بوطئ (قوله: أو شبهة منه) أي أو بسبب شبهة حاصلة من الواطئ، سواء وجد منها شبهة أيضا أم لا.[4]


Terjemah :
            Tidak haram dinikah anak perempuan suami ibu bagi anak istrinya (antara anak gawan suami istri) hal ini diketahui dari kata-kata pengarang : begitu juga memisahkan istri, begitu juga ibunya suami tidak haram bagi anak laki-laki istriya. (kata-kata dan tidak haram ibu dari isrtinya ayah) yakni tidak haram dinikah : yaitu ibu dari istrinya ayah bagi orang anaknya ayah. Hal ini diketahui dari kata-kata mushonif , haram istrinya orang tua, begitu juga haram istrinya ayahnya sendiri (ibu tiri) maka bagi anaknya ayah tidak haram …s/d … al-hasil : tidak haram dinikah anak perempuan dari suaminya ibu (anaknya ayah tiri) dan juga ibunya. Dan tidak haram dinikah anak perempuan suaminya anak perempuan, dan ibunya, dan juga ibu dari istrinya ayah, dan anak perempuannya. Dan juga tidak haram ibu dari istri anak laki-laki dan anak perempuannya dan juga tidak haram istri anak angkat dan istri dari majikan meskipun dia suaminya ibu, karena dia yang meramutnya secara umum.

Mas’alah :
            Seseorang bernadzar akan menyerahkan waqof kepada masjid berupa sebagian tanah yang sedang dipersengketakan (tanah diakui oleh orang lain) dan nadzarnya sudah diucapkan kepada seorang kyai yang menjadi pengurus ta’mir masjid tersebut, sedangkan mengenai nadzar yang diucapkan itu dia dalam keadaan panic, susah, dan bingung. Katanya : kalau perkara tanah itu menang, maka yang sebagian saya waqofkan untuk masjid, seolah-olah dia dalam keadaan tidak sadar. Berhubung masih dalam keadaan perkara maka yang diberikan kepada masjid itu yang sebagian dari hasilnya. Kemudian orang itu meninggal dunia sebelum perkaranya diputuskan. Setelah beberapa bulan, keputusan perkara itu menang.

Pertanyaan :
            Apakah nadzarnya itu dianggap sah yang harus dilaksanakan, ataukah tidak?
Kalau sah kemudian ahli warisnya tidak melaksanakan. Apakah ahli waris termasuk makan barang haram ataukah tidak?

Jawab :
            Bahwa nadzar sebagaimana tersebut diatas, adalah sah hukumnya, tetapi batal, karena matinya sinadzir sebelum terwujudnya sifat mu’alaq alaih.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Bughyatul Mustarsyidin, 269 – 270

Terjemah:
            (mas’alah ba-kaf) ulama berbeda pendapat dalam diperbolehkannya menasarufkan nadzar yang digantungkan dengan sifat yang belum wujud. Syekh zakariya memperbolehkan yang diikuti oleh imam Romli. Abu mahrom dan ibnu hajar juga setuju dalam penjelasan kitab I’ab dan seterusnya ….

Mas’alah :
            Ada seseorang kawin dua. Istri yang pertama mempunyai anak banyak (laki-laki dan perempuan), sedangkan istri yang kedua tidak mempunyai anak sama sekali. Pada waktu masih sehat, ia berwasiat kepada istri mudanya, katanya : engkau jangan mengharapkan barang warisan dariku karena aku mempunyai anak banyak. Dan nanti terserah engkau, kalau diberi engkau terima, kalau tidak jangan menuntut. Kemudian setelah beberapa tahun, ia meninggal dunia.

Pertanyaan :
            Apakah wasiat itu dilaksanakan atau tidak?

Jawab :
            Mas’alah tersebut tidak termasuk wasiat, sebab tidak sesuai dengan haqiqot ta’riful (definisi wasiat).

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Al-jamal ala minhaj, IV : 40
االوصية تبرع بحق مضاف ولو تقديرا لما بعد الموت، .... سد عكن فلا كسانأن إسقاط الحق ترسراه كفدا الزوجة الثانية بعد موت الزوج.

Terjemah :
            Wasiat adalah ibadah dengan hak yang disandarkan setelah mati tasarufnya walaupun hanya kira-kira, … sedangkan pelaksanaan soasial isqot (menggugurkan) haq diserahkan kepada istri kedua setelah matinya suami.



Mas’alah :
            Ada seseorang memberikan / hibah tanah atau rumah kepada anak cucunya, tetapi tidak dengan ijab qobul (tanpa sgihot) hanya dengan petok yang diubah dikeluarkan, sedangkan penghasilannya masih dikuasai oleh wahib hingga wafat. Dan saksinya tidak ada kecuali pak lurah yang mengubah petok tersebut. Apakah hibah tersebut dianggap sah oleh syara’ ataukah tidak?
            Dan kalau tidak sah, apakah tidak kembali menjadi tinggalan bagi si mayit yang harus dibagi kepada ahli waris menurut bagiannya masing-masing.

Jawab:
            Bahwa hukumnya hibah yang termaksud dalam mas’alah ini menurut qoul yang ashoh adalah tidak sah, karena tidak mempunyai syarat hibah, kecuali kalau anak (mauhub lah) masih belum pandai (qoblarrsydi), karena wahib bisa tawallitthosofain sedangkan menurut muqobilul ashoh, hukumnya sah.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. I’anatu al-Tholibin, III : 143
ولو قال جعلته له، صار ملكه، لان هبته له، لا تقتضي قبولا، بخلاف ما لو جعله لبالغ، هذا إن اكتفينا بأحد الشفين من الوالد، فإن لم نكتف به، وهو الاصح، لم يصرح ملكه.

Terjemah:
            Jika seseorang berkata : ini saya jadikan miliknya, maka sah menjadi miliknya (yang dituju). Karena hibahnya (pemberiannya ) tidak harus diterima secara lisan. Lain halnya jika dijadikan untuk yang tidak baligh. Hal ini kalau kita mengambil yang singkat dari salah satu sisi orang tua. Meskipun kita tidak menganggap cukup, itu yang lebih ashoh dan tidak membahayakan.

قال ع ش: وذلك لاحتمال أن يكون الاجنبي وكله مثلا في شرائها له ومثله ولده الرشيد، وأن يكون تملكها لغير الرشيد من مال نفسه أو مال المحجور عليه اه (قوله: ولو قال جعلت هذا لابني الخ) عبارة الروض وشرحه، فإن غرس شجرا وقال عنده، أي عند غرسه، اغرسه لطفلي، لم يملكه، ولو قال جعلته له، صار ملكه، لان هبته له، لا تقتضي قبولا، بخلاف ما لو جعله لبالغ، هذا إن اكتفينا بأحد الشفين من الوالد، فإن لم نكتف به، وهو الاصح، لم يصرح ملكه.[5]

Mas’alah:
            Mana yang lebih sunat mendahulukan basmalallah sebelum salam ataukah sebaliknya?

Jawab :
            Tidak sunah membaca basmalah sebelum salam, karena salam itu sebagian dari perkara yang tidak dijalankan dengan membaca bismillah.
Dan jika membaca bismillah, maka putuslah kesunatan salam.


Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Adzkar An-Nawawi, hal. 168

Terjemah:
(fasal) yang sunah orang salam itu mulainya sebelum bicara apa-apa …s/d …. Salam adalah sebelum berbicara. Karena salam adalah penghormatan yang dibuat permulaan. Sunahnya tidak ada jika sudah dimulai dengan bicara dahulu. Seperti sunahnya tahuyatul masjid, sebelum melakukan apa-apa.

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya pal dengan Al-Qur’anul Karim?

Jawab :
            Menggunakan pal al-Qur’anul karim hukumya makruh.

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Fatawi Haditsiya, hal. 197

Terjemah:
            Makruh mengambil fal dari al-Qur’an (mushaf) menurut mayoritas ulama madzab malikiyah menghukumi haram.

Mas’alah :
            Siapakah yang harus melaksankan iqomahtul hudud, seperti zina, tarikussholah? Sehubungan dengan diwenagkannya peradilan agama dinegara Indonesia. Lalu bagi orang yang bermurah diri untuk menerima sangsi hukuman (iqomatul hudud) dengan cara taubat yang bagaimana dia terlepas dari tuntutan dosa di akhirat kelak dalam hal yang belum ada pelaksanaannya?

Jawab:
            Iqomatul had mauquf, hanya cara tauat. Oleh karena tidak bias iqomatul had, maka cukup dengan taubat nashuha

Dasar Pengambilan Dalil:
  1. Bughyatu al-Mustarsyiddin, hal. 249

Terjemah:
            Tidak cukup taubatnya orang yang zina atau membunuh dengan menyerahkan dirinya untuk di had. Walaupun menetapkan taubatnya didepan hakim, bahkan (taubat) penyerahan diri tidak cukup dalam melepaskan diri dari hal-hak adami yang wajib. Syah taubatnya dalam hak-hak Allah ketika ada penyesalan dan kemaksiatan hak taubat bahkan harus melepaskan diri (keluar) dari kemaksiatan tersebut.

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya orang bukan islam di Indonesia (cian atau lainnya) termasuk kategore apa, dzimi mu’ahad ataukah musta’man?

Jawab:
            Hukumnya orang non muslim di Indonesia kalau asalnya islam, maka murtad. Dan kalau tidak, maka bukan dzimi, bukan mu’ahad dan bukan musta’man.
Dasar Pengambilan :
  1. Kasyifatu al-syaja, hal. 32 – 33

Terjemah:
            Dzimmi adalah : orang yang mengadakan perjanjian membayar pajak dengan imam atau naibnya dan patuh terhadap hukum-hukum islam, mu’ahad adalah: orang yang mengadakan perjanjian damai dengan imam atau naibnya dari golongan musuh (harbi) untuk meninggalkan pertempuran (genjatan sejata) selama empat bulan dan sepuluh tahun dengan adanya ganti atau selainnya yang sampai pada kita. Mu’mandi dan sholat adalah : orang yang mengadakan perjanjian aman dengan sebagian orang islam hanya dalam masa empat bulan.

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya seorang islam yang mengatakan kata-kata mengkufurkan, memurtadkan atau dapat menyesatkan orang islam. Seperti perkataan “semua agama sama” islam tidak mengatur soal keduniaan dan lain-lain. Murtad ataukah tidak?

Jawab:
            Ditafsil. Kalau perkataan itu dari orang bodoh yang udzur, maka hukumnya tidak, akan tetapi ma’siyat, jika tidak niat istihza dan istihfaf.

Dasar Pengambilan:
  1. Bughyatu al-Mustarsyiddin, hal. 297

Terjemah:
            Sesungguhnya orang yang bodoh dan yang salah dari umat ini (umat Muhammad), tidak ada setelah masuk islamnya, hal-hal yang dapat mengkufurkan sehingga jelaslah hujjah baginya sesuatu yang tidak ada keserupaan yang dapat diampuni.

Mas’alah:
            Bagaimana hukumnya orang wajib menunaikan menurut ilmu-ilmu fardlu ain. Dia sebelum menuntut ilmu-ilmu fardlu ain sudah pindah menuntut ilmu-ilmu fardlu kifayah apalagi ilmu yang di sunahkan. Boleh atau tidak?

Jawab :
            Hukumnya haram/termasuk dosa besar.

Dasar Pengambilan:
  1. At-Tuhfah (syarwani), IV : 309
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ الْكَبَائِرِ تَرْكُ تَعَلُّمِ مَا يَتَوَقَّفُ عَلَيْهِ صِحَّةُ مَا هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَيْهِ لَكِنْ مِنْ الْمَسَائِلِ الظَّاهِرَةِ لَا الْخَفِيَّةِ.

Terjemah:
            Termasuk dosa besar tidak mempelajari perkara yang mensahkan fardu ‘ain dalam masalah-masalah yang jelas tidak yang samar.

يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ الْكَبَائِرِ تَرْكُ تَعَلُّمِ مَا يَتَوَقَّفُ عَلَيْهِ صِحَّةُ مَا هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَيْهِ لَكِنْ مِنْ الْمَسَائِلِ الظَّاهِرَةِ لَا الْخَفِيَّةِ نَعَمْ مَرَّ أَنَّهُ لَوْ اعْتَقَدَ أَنَّ كُلَّ أَفْعَالِ نَحْوِ الصَّلَاةِ أَوْ الْوُضُوءِ فَرْضٌ أَوْ بَعْضَهَا فَرْضٌ وَلَمْ يَقْصِدْ بِفَرْضٍ مُعَيَّنٍ النَّفْلِيَّةَ صَحَّ وَحِينَئِذٍ فَهَلْ تَرْكُ تَعَلُّمِ مَا ذُكِرَ كَبِيرَةٌ أَيْضًا أَوْ لَا ؟ لِلنَّظَرِ فِيهِ مَجَالٌ وَالْوَجْهُ أَنَّهُ غَيْرُ كَبِيرَةٍ لِصِحَّةِ عِبَادَاتِهِ مَعَ تَرْكِهِ ، وَأَمَّا إفْتَاءُ شَيْخِنَا بِأَنَّ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ بَعْضَ أَرْكَانِ أَوْ شُرُوطِ نَحْوِ الْوُضُوءِ أَوْ الصَّلَاةِ لَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ فَيَتَعَيَّنُ حَمْلُهُ عَلَى غَيْرِ هَذَيْنِ الْقِسْمَيْنِ لِئَلَّا يَلْزَمَ عَلَى ذَلِكَ تَفْسِيقُ الْعَوَامّ وَعَدَمُ قَبُولِ شَهَادَةِ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَهُوَ خِلَافُ الْإِجْمَاعِ الْفِعْلِيِّ بَلْ صَرَّحَ.[6]

Mas’alah:
            Ada hadits yang di keluar oleh imam Muslim :
إذا أن يكون بغير امام مات ميتة جاهلية، ومن نزع يده من طاعته جاء يوم القيامة لا حجة له.

Pertanyaan:
            Untuk menghindari, maka perlu mengetahui siapa yang dimaksudkan imam dalam hadits tersebut?

Jawab:
            Yang dimaksud imam dalam hadits tersebut adalah melalui salah satu tiga jalan yaitu:
بيعة أهل الحل والعقد
باستخلاق إمام قبله
باستيلاء ذى الشوكة
Dasar Pengambilan:
  1. Bughyatut al-Mustarsyiddin. Hal. 247


Terjemah:
            Sah menjadikan imam dengan bai’atnya ahli halli wal aqdi dari ulama pemimpin, dan tokoh masyarakat yang bersepakat atau dengan penggantian dari imamsebelumnya atau dengan pengangkatan orang yang berkuasa walaupun tidak memenuhi sarat.


Mas’alah:
            Darimana asalnya pelaksanaan rukat itu? Dan bagaimana hukumnya?

Jawab:
            Ditafsil : boleh, jika dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan suci dari hal-hal yang dilarang. Haram, jika tidak dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengandung larangan agama. Kufur, jika dimaksudkan untuk menyembah kepada selain Allah.

Dasar Pengambilan:
  1. I’anatut Tholibbin. Hal. 349


Terjemah:
            Apabila mensodaqohkan makanan tersebut dengan tujuan mendekatkan diri (taqorub) pada Allah agar terhindar dari kejahatan jin maka tidak haram karena tidak ada taqorrub pada selain Allah, apabila ditujukan pada jin maka haram hukumnya. Bahkan apabila bertujuan mengagungkan dan menyembah pada selain Allah maka kufur karena diqiyaskan pada nashnya dalam masalah penyembelihan (dzabbi).

Mas’alah :
Berhubung masa sekarang tidak sedikit orang yang tidak menyebabkan tidak sahnya sholat jum’ah ikut melakukan sholat jum’ah terutama di masjid-masjid kota, sedangkan pada umumnya mereka itu tidak mengerti/tidak memperhatikan apakah takbirotul ihrom mereka itu sesudah takbirotul ihromnya orang yang menyebabkan sahnya sholat jum’ah. Maka bagaimanakah hukumnya sholat seseorang yang menyebabkan tidak sahnya sholat jum’ah seperti tersebut di atas ?

Jawab :
Terdapat perbedaan pendapat diantara ulama’ : sebagian mengatakan sah, dan sebagian lagi mengatakan tidak.

Dasar pengambilan :
  1. Al-Hawasyi Al-Madaniyah. II. 40


Terjemah :
Imam Khotib dan Imam Romli berpendapat bahwa yang mu’tamad adalah tidak menyaratkan sedang Al-Romli menuqil dalam kitab Nihayah dari fatwa ayahnya, Ibnu Hajar dalam kitab Fathi Al Jawad mengatakan bahwa pendapat tersebut adalah qoul aujah dan mu’tamad. Di dalam kitab tuhfah tidak disyaratkan lebih akhirnya pekerjaan mereka (orang yang tidak berkewajiban sholat jum’ah) dan pekerjaannya orang yang menjadi sahnya sholat jum’ah.

Mas’alah :
Sudah menjadi kebiasaan daerah, jual beli dengan system tebasan sebelum masak betul dan tidak langsung dipetik seperti padi, mangga, tebu dan lain-lainnya. Apakah ada pendapat yang membolehkan ?

Jawab :
Ada, yaitu pendapat Imam Abu Hanifah

Dasar pengambilan :
  1. Rohmatul Ummah. Hal 138



Terjemah :
Tidak boleh jual beli buah-buahan dan padi sebelum masak betul dengan tidak mensyaratkan langsung dipetik menurut Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad. Imam Abu Hanifah berkata : jual beli tersebut sah secara mutlak dan menuntut untuk segera dipetik.

Mas’alah :
Pada suatu waktu datanglah teman saya untuk meminta modal sebesar lima juta rupiah kepada saya untuk berdagang. Dan teman saya tersebut sanggup member hasil tetap setiap bulan sekian persen dari modal. Kesanggupan member hasil tetap tadi bukan atas permintaan saya sebagai pemilik modal, tetapi dari teman saya tersebut.

Pertanyaan :
Bolehkan menurut hukum Islam saya menerima pemberian hasil tetap sebagaimana tersebut di atas ?

Jawab :
Hukum menerima pemberian sari orang yang minta modal yang berjanji akan member persen secara tetap untuk setiap bulannya tidak boleh kecuali kalau tidak diucapka di dalam aqad.

Dasar pengambilan :
  1. Al –Mizan. II/72



Mas’alah :
Sudah tersiar berita bahwa syeh di Mekah yang meminta uang dari jamaah haji, tidak menyembelih binatang pada hari qurban dan hari-hari tasyriq. Tetapi mereka hanya menyembelim ayam dan ikan sarden. Apakah ada pendapat yang menganggap cukup penyerahan uang dam tersebut? Dan apakah ada pendapat yang mencukupkan untuk menyembelih ayam ?

Jawab :
Boleh dan cukup, kecuali kalau diketahui secara yakin bahwa mereka tidak menyembelih.

Mas’alah :
Terjadi dalam pengadilan agama suatu persidangan syiqoq antara suami istri lalu mengangkat dua hakim dari pihak suami dan pihak istri menurut qoul yang kedua sebagai wakil dari hakim/qodli. Dan apabila kedua hakim tersebut tidak mendapatkan persamaan pendapat, maka hakim mengangkat kedua hakim lelaki yang terdiri dari pegawai kantor yang bersangkutan, kemudian apabila kedua hakim yang baru terjadi kedua hakim yang pertama, maka hakim atau qodli menjatuhkan talaq tanpa persetujuan suami bahkan adakalanya suami tidak hadir pada persidangan itu.

Pertanyaan :
Dapatkah dibenarkan tindakan hakim yang bersitimbath atas sebagian ulama’ seperti yang tercantum di dalam kitab Ghoyatut Al-Marom karangan Syeh Muhyiddin Mufti Makkah?

غاية المرام .............
Jawab :
Hukum tersebut tidak dibenarkan, karena beristimbat pada pendapat yang tidak terkenal. Masalah tersebut telah dibahas dalam Mu’tamar NU ke XV

Dasar pengambilan :
  1. Hasyiah Al-Syarqowi. II. 276


Terjemah :
Apabila masing-masing antara suami atau istri  mengaku/saling menuduh lainnya dan permasalahannya hampir sama (sama punya alasan) maka seorang qodli wajib mengangkat hakam (juru runding) diantara keduanya yang dapat diterima kedua belah pihak. Untuk menyidik perkara keduanya setelah disertai permasalahan dari suami dan permasalahan dari istri. Dan apa saja yang menyangkut keduanya. Kemudian hakam supaya melakukan yang lebih maslahat, apakah damai atau cerai. Allah SWT berfirman, yang artinya : “jika kalian khawatir terjadi syiqoq (perpecahan) antara keduanya, maka angkatlah juru hakam dari kedua suami dan juru hakam dari keluarga istri (QS. An-Nisa’ : 35). Disunnahkan keberadaan juru hakam dari kedua keluarga dengan dasar ayat tersebut. Dan juru hukum dari keluarga itu akan lebih mengetahui kemaslahatan dari keluarga itu sendiri. Dan juru hakam itu sebagai wakil dari keluarganya. Bukan sebagai orang yang mengadili seperti hakim secara umum. Dan pula kondisi seperti itu terkadang mengakibatkan pertentangan atau perpisahan. Dan budlu’ (kemaluan perempuan) itu hak suami, dan harta benda itu haknya istri, dan keduanya adalah pandai (yang mengetahui haknya) maka juru hukum tidak boleh menguasai hak dari keduanya, dan ia di posisi sebagai wakil. Yaitu juru hakim dari pihak laki-laki mewakili tholaq dan menerima iwadl (pengganti maskawin yang diberikan istri) dan juru hakam dari pihak istri sebagai orang yang mewakili menyerahkan iwadz dan menerima tholaq. Kemudian kedua juru hukum itu disyaratkan harus islam, merdeka, adil dan member petunjuk pada tujuan pengangkatan dirinya. Dan sunnah kedua juru hakam itu laki-laki keduanya.  
    
  1. Ahkamul Fuqoha’. II. 128-129

ولو اشتد ..........
Mas’alah
            Bagaimana hukumnya air ledeng/ pet yang sudah kecampuran bahan kimia kaforit yang baunya dan rasanya sudah berubah? Apakah sifat kemutlakannya masih tetap thohir muthohir.

Jawab: tidak ada jawabannya
            Dasar Pengambilan:
  1. Hamisy al-bajuri, I : 31

Terjemah:
            Dan air yang berubah, artinya macamnya air yang berubah salah satu sifat-sifatnya dengan suatu suci yang mencampurinya dengan perubahan yang dapat  menghalangi kemutlakan namanya air itu dinamakan air suci tapi tidak mensucikan.

  1. Al-bajuri, I : 31



[1] Lengkapnya dalam maktabah as-syamilah, 31 : 216. Tuhfa muhtaj syarah minhaj
[2] Lengakapnya( I. T ) di maktabah syamilah spt diatas, II : 70
[3] Lengkapnya di maktabah as-syamilah, ( M.M ). VI : 226
[4] Lengkapnya di maktabah syamilah, (I T) , III : 336
[5] Di maktabah syamilah, (I T), III : 170
[6] Lengkapnya di maktabah syamilah, (Tuhfatu muhtaj syarah minhaj)  43 : 462





Hal ini terbatas pada kondisi darurat, supaya tidak terjadi keberanian melakukan pembohongan. Dalam pengertian tersebut di atas banyak sekali hadis-hadis yang menceritakan. Tauban berkata : berbohong semuanya adalh berdosa, kecuali berbohong yang memberi kemanfaatan kepada orang Islam atau menolak bahaya.


2.      Al-Ihya' Ulumu Al-Dien III : 147

وعن النواس بن سمعا الكلاب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. مالى أراكم تتهافتون فى الكذب تهافت الفراش فى النار؟ كل الكذب يكتب على ابن آدم لا محالة الاّ ان يكذّب الرّجل فى الحرب فإنّ الحرب خدعة او يكون بين الرّجلين شحناء فيصلح بينهما او يحدث امرأته يرضيها.


Terjemah :
Diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sama' Al-Killab, ia berkata : Rasulullah SAW besabda : apa bagi saya melihat kalian semua sama melontarkan kata-kata bohong seperti melemparkannya semut ke arah api? Semua nohong ditulis membahayakan (jelek) bagi anak adam, kecuali berbohongnya seorang laki-laki dalam berperang, sesungguhnya berperang adalah tipuan. Atau berbohong diantara dua laki-laki yang bertengkar, kemudian dapat mendamaikan keduanya (dengan berbohong) atau menasehat istrinya agar ia ridho.

3.      Irsyadul Ibad hal : 71

(تنبيه) الكذب عند أهل السنة وهو الإخبار بالشيئ على خلاف ما هو عليه سواء أعلم ذلك وتعمّد أملا، وأمّا العلم والتّعمّد فإنّما هما شرطان للإثم (واعلم) أنّه قد يباح وقد يجب، فالضابط أنّ كلّ مقصود محمود يمكن التّوصّل إليه بالكذب وحده فمباح إن أبيح تحصيل ذلك المقصود، وواجب إن وجب تحصيل ذلك كما لو رأى معصوما اختفى من ظالم يريد قتله أو إيذاءه.....الخ
Terjemah :
(peringatan) Bohong menurut ahli sunnah ialah mengabarkan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan, baik ia mengetahui, dan sengaja atau tidak. Mengetahui dan sengaja itu menjadi syarat keduanya terhadap dosa (bila diterjang). Perlu  diketahui : setiap berbohong yang betujuan terpuji, dan bisa mencapainya itu dengan jujur atau bohong, maka bohong di situ haram hukumnya, namun bila mencapai tujuan itu hanya bisa dengan jalan membohongi, maka bohong di situ boleh bila yang dituju hal yang boleh (mubah) dan bohong bisa menjadi wajib bila yang dituju itu hal yang wajib. Seperti ia mengetahui orang yang baik dan sedang bersembunyi dari orang dzolim atau ingin membunuhnya, kemudian ia membohonginya, itu adalah wajib.


Mas'alah :
Bagaimana hukumnya seseorang yang berhutang uang dengan memberikan tanggungan sebidang tanah, yang hasil tanah tersebut diambil oleh orang yang memberi hutang. Selam hutang tersebut belum dilunasi, maka tanah tersebut masih dikelola oleh pemilik uang dan hasilnya tetap diambil olehnya ?

Jawab :
Hukumnya haram, karena tersebut menghutangi yang bertujuan mengambil kemanfaatan, akan tetapi apabila syarat mengambil keuntungan hasil tanah itu tidak dimasukkan dalam aqad (Shulbi Al-Aqdi)

Dasar pengambilan :
  1. I'anatu Al-Tholibin III : 56
(قوله ومن الرّبا بالقرض)  اى ومن ربا القرض وهو كل قرض جر نفعا للمقرض غير نحو رهن لكن لا يحرم عندنا الاّ اذا شُرِطَ فى عقد.

Terjemah :
(perkataan penyusun Fathu Al-Mu'in) : termasuk riba Qordhu) artinya : termasuk riba Qordhu yaitu setiap hutang yang menarik keuntungan bagi yang menghutangi selain gadai. Tetapi menurut kita (golongan Syafi'iyah) tidak haram, kecuali jika disyaratkan pada waktu aqad (maka itu haram).

  1. Hasyiyah Jamal 'Ala Syarhil Minhaj III : 75
والحاصل فى كلامهم انّ كلّ شرط مناف لمقتضى العقد انّما يبطله اذا وقع فى صلب العقد او بعده وقبل لزومه بخلاف ما لو تقدّم عليه ولو فى مجلسه.


Terjemah :
Kesimpulan dari pembicaraan ahli fiqih : setiap syarat yang mematikan pada muqtadlol Aqdi (kondisinya Aqid) itu bisa batal jika syarat itu terjadi dalam transaksi atau setelah aqad tapi belum ketetapan lain halnya jika syarat lebih dahulu meskipun dalam satu majlis.

  1. Bughyatul Mustarsyidin : 176

(مسئلة ب) مذهب الشافعى انّ مجرّد الكتابة فى سائر العقود والاخبارات والانشئات ليس بحجّة شرعيّة.

Terjemah :
(masalah B) Madzhab Imam Syafi'i : bahwa hanya dengan tulisan pada semua aqad dan berita-berita dan anjuran (Insya') tidak dapat dijadikan satu-satunya alasan menurut syariat.


Mas'alah :
Menurut keterangan kitab tauhid Al Hushunu Al Hamidiyah hal 50 : "Adapun penyakit yang boleh menghinggapi para Rasul, yang dengan penyakit itu lalu para manusia sama menyingkir karena jijik dan lain sebagainya, maka itu muhal terjadinya bagi para Rasul. Penyakit tersebut semacam gila, jatuh pingsan, lepra/kusta, buta. Adapun penyakit yang diderita oleh Nabi Ayyub AS itu adalah penyakit kulit (exem) yang tidak menyebabkan larinya umat dari sisi beliau. Sedang cerita yang terkenal yang menyebabkan larinya umat dari sisi beliau, itu semua batal. Apakah penyakit yang menimpa Nabi Ayyub AS sebagaimana yang diceritakan dalam dalam kitab 1. Durrotunnasikhin hal 194, dan Aroisul Majalis hal 138, itu masih termasuk sift jaiz bagi Rasul dan bukan sebagai keterangan kitab Aqidatul Awam :

وجائز فى حقهم من عرض        بغير نقص كخفيف المرض
Jawab :
Penyakit tersebut tidak menyebabkan larinya umat dari taat beliau, dan masih termasuk dalam keterangan kitab Aqidatul Awam di atas

Dasar pengambilan :
  1. Asnal Madtolib, hal 278, 279

وقصّة سيّدنا أيوب عليه السّلام وانّ الله سلّط عليه إبليس فنفح عليه فأصابه الجذام حتى تناثرت الدّود من بدنه...الخ من المنفرات طبعا كلّ ذلك زور كذب وافتراء محض ولا عين بمن نقل وإن كان من الأجِلاّء حيث فى كتاب وسنة رسوله ولا من طريق ضعيف ولا واه، بل هو مجرّد نقل بغير سند.

Terjemah :
Cerita Nabi Ayyub AS. Sesungguhnya Allah SWT menguasakan kepada iblis atas diri Ayyub AS, kemudian iblis meniupnya lalu Ayyub AS kena penyakit jusam (kusam) sampai set (ulat kulit) sama berjatuhan dari badannya ...dst... termasuk yang menggiriskan menurut hal kebiasaan. Hal itu semua bohong dan mengada-ada dan tidak melihat orang yang menukil, walaupun dari golongan terkemuka. Tidak ada dalam kitab atau sunnah Rasul, dan tidak ada pula dari jalan yang Dho'if dan lemah. Bahkan cerita itu hanya mengambil pendapat tanpa ada sanadnya.

  1. Tuhfatul Murid Syarah Jauharut Tauhid
  2. Al Jami'u Al Ahkamu Al Qur'an oleh Al Qurtubi XV / 340
  3. Fatawi Kubro



KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL SYURIYAH
NU WILAYAH JAWA TIMUR
DI PP MAMBA'UL MA'ARIF DENANYAR JOMBANG
TGL 29 DHULHIJJAH – 2 MUHAROM / 6 – 8 OKTOBER 1983

Mas'alah :
Apakah kata-kata mushola dalam kitab-kitab fiqih boleh diartikan masjid ?

Jawab :
Muhola/ langgar sebagaimana yang berlaku di Indonesia pada umumnya, tidak bisa dihukumi masjid, selama tidak dinyatakan sebagai masjid, walaupun diniyatkan sebagai waqof.

Dasar pengambilan :
  1. Al Sarqowi I / 448

فى المسجد وهو ما وقفه الواقف مسجدا لا رلاطا ولا مدرسة

Terjemah :
Masjid adalah suatu tempat yang telah diwaqofkan untuk menjadi masjid bukan pondok atau madrasah.

  1. At Tuhfah III / 223

وخرج بالمسجد مصلى العيد وما بنى فى أرض مستأجرة على صورة المسجد وأذن بانيه فى الصلاة فيه.

Terjemah :
Bukan termasuk masjid adalah : tempat sholat hari raya dan sesuatu yang dibangun di atas tanah persewaan dengan model bangunan masjid dan pendirinya / pembangunnya mengizini untuk dibuat sholat di situ.
                
  1. Bughyatul Mustarsyidin : 6

فلو رأينا محلا مهيّأ للصّلاة ولم يتواتر بين الناس أنّه مسجد لم يجب التزام أحكام المسجديّة فيه.

Terjemah :
Jika kita melihat tempat yang diperuntukkan untuk sholat, dan manusia tidak sama menganggap kalau hal itu tadi masjid, maka tidak bisa ditetapkan sebagai masjid.

  1. I'anatu Al Tholibin IV / 161

ووقفته للصّلاة أى اذا قال الواقف وقفت هذا المكان للصّلاة فهو صريح فى مطلق الوقفيّة وكناية فى خصوص المسجديّة فلا بدّ من نيّتها فان نوى المسجديّة صار مسجدا وإلاّ صار وقفا على الصّلاة فقط ولم يكن مسجدا كالمدرسة.

Terjemah :
Dan saya waqafkan tempat ini untuk sholat : artinya ketika orang yang waqaf mengatakan : saya mewaqafkan tempat ini untuk sholat, maka itu kata yang shorih (jelas) untuk waqaf secara umum. Kalau kemudian dikhususkan untuk masjid itu masih kata kinayah, maka harus ada niat. Jika orang yang waqaf niat dibuat masjid, maka itu menjadi masjid dan jika tidak diniati jadi masjid maka itu menjadi waqafan untuk sholat saja bukan masjid seperti madrasah.

Mas'alah :
Bolehkah memperagakan sholat khouf, sholat istisqo' umpamanya di dalam acara latihan dan sebagainya ? apakah tidak termasuk mempermainkan ibadah?

Jawab :
Memperagakan sholat khouf dan sebagainya apabila dimaksudkan untuk ta'lim atau sesamanya, hukumnya boleh dan tidak termasuk mempermainkan ibadah.

Dasar pengambilan :
  1. Al Manhalul 'Adzbul Maurud Syarah Sunan Abi Dawud II / 283

عن ابن عبّاس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أمّنى جبريل عليه السّلام عند البيت مرّتين فصلّى بى الظّهر حين زالت الشّمس وكانت قدر الشراك، وصلّى بى العصر حين كان ظلّه مثله، وصلّى بى المغرب حين أفطر الصّائم، وصلّى بى العشاء حين غاب الشّفق، وصلّى بى الفجر حين حرّم الطّعام والشّراب على الصّائم...الحديث (رواه أبو داود فى سننه) وفى شرحه المنهل العذاب المورود فى شرح سنن أبى داود ج 282 ما نصّه:
...وظاهره صحّة الاقتداء بالمقتدى لأنّ الصحابة لم يشاهدوا جبريل وإلاّ نقل ذلك، والأظهر دفعه بَأَنَ إمامة حبريل لم تكن على حقيقته بل على النسبة الجاريّة من دلالته بالإيماء والإشارة إلى كيفية أداء الأركان وكميّتها كما يقع لبعض المعلّمين حيث لم يكونوا فى الصّلاة ويعلّمون غيرهم بالإشارة القولية:

Terjemah :
Dari Ibnu Abbas  ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : Jibril AS mengimami saya dua kali di rumah, ia sholat dzuhur dengan saya ketika matahari sudah bergeser ke arah barat
  1. Jamal Fathul Wahab I / 55
لو تطّهر عن حدث أو لعبادة لتلاعبها...الخ قونه عن حدث أو لعبادة بأن قصد رفع الحدث أو التعبّدَ به كغسل الجمعة. فظهر من قوله لتلاعبها انّ حدثها لا يرتفع وتعبّدها بالغسل لا يصحّ فى حالة الحيض وعبارة م (وممّا يحرم عليها الطّهارة عن الحدث بقصد التعبّد مع علمها بالحرمة لتلاعبها فالعبادة لا تصير عبادة الاّ بنيّة العبادة).
Terjemah :



ولو أذّن قبل الوقت بنيّته حرم ذلك عليه لأنّه متعاط عبادة فاسدة (قوله لأنّه متعاط عبادة فاسدة) وقضية قول الشّارح قبل ولو أذن قبل الوقت حُرِمَ أن ينال هنا بالتّحريم حيث أذن بنيّته أى وإن أذن لا بنيّته فلا يحرم انتهى.

Mas’alah :
Bolehkah mengambil air jeding untuk berobat atau lainnya ?

Jawab :
Mengambil air jeding masjid untuk berobat atau lainnya itu boleh apabila bahwa air tersebut disediakan untuk kepentingan-kepentingan yang tidak terbatas (Ta’minul intifa’)

Dasar pengambilan :
  1. I’anatu Al Tholibin III / 171, 172

سئل العلامة الطنبداوى عن الجراب والجرار التى عند المسجد فيها الماء إذا لم يعلم أنّها موقوفة للشّرب أو الوضوء أو الغسل الواجب أو المسنون أو غسل النجاسة. فأجاب أنّه إذا دلّت قرينة على أنّ الماء موضوع لتعليم الانتفاع جاز ما ذكر من الشّرب وغسل النّجاسة وغسل الجنابة وغيرها. ومثال القرينة جريان النّاس على تعميم الانتفاع بالماء بغسل وشرب و وضوء وغسل نجاسة، فمثل هذا إنتفاع ينال بالجواز 51.

Terjemah :
Al Alamah Syekh Thombadawi ditanya tentang jirobi dan jiror (tempat persediaan air) yang ada di dekat masjid, da di situ ada airnya yang tidak jelas status pewakafan air, baik untuk diminum atau untuk wudlu, atau untuk mandi wajib / sunnah, atau membasuh najis. Beliau menjawab : seseungguhnya apabila ada qorinah (tanda-tanda) bahwa air iru disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, yaitu untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain-lainnya. Contoh ada qorinah (tanda-tanda) terbiasanya manusia dalam menggunakan air tersebut untuk kemanfaatan secara umum, dengan dipakai untuk mandi, untuk minum, untuk wudlu, dan untuk membasuh najis. Contoh pemanfaatan air digunakan seperti di atas adalah boleh.

  1. I’anatu Al Tholibin I / 55
  2. Al Fatawi Ak Kubro III / 266


Mas’alah :
Seorang muslim mempunyai isteri kristen, dimana perkawinannya dilakukan dua kali, pertama secara islam dan kedua secara kristen.
Bagaimana hukumnya pernikahan semacam itu ?
Dan bagaimana kedudukan anak mereka dari hasil perkawinan tersebut ?

Jawab :
Tidak sah perkawinan seorang islam dengan perempuan kristen yang tidak diketahui masuknya orang tua dalam agama sebelum diutus Nabi Muhammad SAW, jika perempuan itu masuk islam dalam aqad nikah pertama, maka menjadi murtad dengan aqad nikah kedua sebelum dukhul (bersetubuh) sehingga aqad nikah pertama menjadi batal. Adapun anaknya tidak bisa ilhaq kepada lelaki tersebut.

Dasar pengambilan :
  1. I’anatu Al Tholibin III / 296

(تنبيه) اعلم أنّه يشترط أيضا فى المنكوحة كونها مسلمة أو كتابية خالصة، ذميّة كانت أو حربيّة، فيحلّ مع الكراهة نكاح الإسرائيليّة بشرط أن يعلم دخول أوّل آبائها فى ذلك الدّين بعد بعثة عيسى عليه السّلام وإن علم دخوله فيه بعد التّحريف. ونكاح غيرها بشرط أن يعلم دخول آبائها فيه قبلها ولو بعد التّحريف أن تجنّبوا المحرّف. ولو أسلم كتابى وتحته كتابيّة دام نكاحه وإن كان قبل الدّخول أو وثنىّ وتحته وثنيّة فتخلّفت قبل الدّخول تنجزت الفرقة أو بعده وأسلمت فى العدّة دام نكاحه، وإلاّ فالفرقة من إسلامه.

Terjemah :
(peringatan) Perlu diketahui menjadi syarat pula bagi perempuan yang dinikahi adalah islam, atau kafir kitabi  yang mencerai, baik dari kafir dzimy maupun kafir harby. Maka halal dan makruh menikahi perempuan isroiliyah denga syarat tidak diketahui masuknya bapak-bapaknya pada agama tersebut setelah ada perubahan. Dan halal nikah selain isroiliyah dengan syarat, diketahuinya masuknya orang tua pada agamanya sebelum diutusnya Nabi Isa AS. Meskipun setelah dirubah jika dia mengetahui perubahan tersebut.
Apabila orang kafir kitabi masuk islam dan ia punya istri yang berstatus kafir kitabi, maka nikahnya masih tetap (sah dan tidak putus), meskipun masuknya Islam dia sebelum dukhul (bersetubuh), atau apabila ada orang kafir wasani masuk Islam, dan istrinya masih kafir wasani, dan perpisahan itu sebelum dukhul (bersetubuh) maka perceraian itu terjadi (denga perbedaan agama), atau pisahnya setelah dukhul namun si istri masuk Islam dalam masa iddah maka masih tetap sah nikahnya, kalau tidak masuk Islam, maka batal nikahnya (cerai) itu sejaksuami masuk islam.

  1. Al Muhadzab II / 44

و من دخل دين اليهود والنّصارى بعد التّبديل لا يجوز للمسلم أن ينكح حرائرهم.

Terjemah :
Barang siapa masuk agama yahudi dan nasrani setelah kitabnya diganti, maka bagi orang Islam tidak boleh menikahi mereka (mesikpun sudah dimerdekakan)

  1. Fathu Al Wahab II / 64

وردّة من الزّوجين أو أحدهما قبل دخول وما فى معناه من استدخال منّى تنجز فرقة بينهما لعدم تأكّد النّكاح بالدّخول أو فى معناه. وبعده توقفها، فإن جمعهما إسلام فى العدّة دام نكاح بينهما لتأكّده بما ذكر وإلا فالفرقة بينهما حاصلة من حين الرّدّة منهما أو من أحدهما.

Terjemah :
Dan murtad dari kedua suami istri, atau salah satunya sebelum dukhul (bersetubuh) dan dengan pengertian dukhul  yaitu , memasukkan mani sang suami pada vagina istri. Maka hal itu akan terjadi erat antara keduanya. Karena nikah tidak dapat dikuatkan dengan dukhul (bersetubuh) atau sesamanya.
Seansainya dalam masa iddah keduanya kumpul bersama dalam Islam (sama-sama masuk Islam) maka menjadi kekal pernikahan keduanya (tidak terjadi perceraian) karena kekuatan nikah ada pada kesamaan agama. Kalau tidak bisa kumpul dalam satu agama, maka perceraian terjadi sejak dia murtad keduanyan atau salah satunya.

  1. Bujairomi IV / 202

فرع: المرتد إن انعقد قبل الرّدّة أو فيها وأحد أصوله مسلم فمسلم تبعا له، والإسلام يعلو، أو أحد أصوله مرتدّ فمرتدّ تبعا لا مسلم كافر.

Terjemah :
(far’un) orang murtad jika kejadiannya sebelumnya murtad ada pada waktu murtad dan salah satu orang tuanya Islammaka ia dihukumi Islam, karena mengikuti orang tuanya. Dan Islam adalah tinggi (di Atas). Atau salah satu antara orang tuanya murtad, maka ia dihukumi murtad karena mengikuti oarang tuanya. Bukan Islam dan bukan kafir.


Mas’alah :
Bagaimana hukumnya orang Islam menjual / melayani makanan minuman kepada orang-oarang yang tidak puasa pada siang hari Romadhon ?

Jawab :
Haram, sebab terdapat unsur membantu maksiat. Demikian itu kalau diketahui bahwa oarang tersebut akan makan pada waktu siangnya, atau ada tanda yang menunjukkan bahwa orang tersebut tidak berpuasa tanpa ada udzur.

Dasar pengambilan :
  1. I’anatu Al Tholibin III / 24

وكإطعام مسلم مكلّف كافرا مكلّفا فى نهار رمضان: وبيعه طعاما علم أو ظنّ أنّه يأكله نهارا.

Terjemah :
Dan seperti memberi makan bagi orang Islam yang mukalaf kepada orang kafir di hari siang bulan Ramadhan (itu haram) dan menjual makanan yang diketahui atau diperkirakan pembelinya atau makan di siang hari bulan Ramadhan (itu juga haram).

  1. Al Syarqowi II / 14

ويعلم ذلك كما قاله: وحرمة إطعام مسلم كافرا مكلّفا فى نهار رمضان وكذا بيعه طعاما عُلِمَ أو ظنّ أنّه يأكله نهارا لأنّه تسبّب فى المعصية وإعانة عليها بناء للقول الرّاجح فى تكليف الكفّار بفروع الشّرعيّة.

Terjemah :
 Dan sudah maklum hal tersebut apa yang dikatakan, yaitu : haram bagi orang Islam memberi makanan di siang hari bulan Ramadhan kepada orang kafir (orang tidak berpuasa). Begitu juga haram menjual makanan yang diketahui atau diperkirakan bahwa pembeli akan makan di siang hari pada bulan Ramadhan, karena itu menjadi sebabnya maksiat dan menolong pada maksiat. Berpedoman pada qoul rojah tentang taklifnya orang kafir dengan cabangan syariat.

  1. An Nihayah III / 55
  2. Mirqotussu’ud : 81


Mas’alah :
Melakukan umroh sebelum syawal, kemudia sekaligus melakukan ibadah haji pada tahun itu juga apakah termasuk haji tamatu’ yang ?

Jawab :
Termasuk haji tamatu’ yang tidak wajib dam.

Dasar pengambilan :

  1. Nihayatu Al Muhtaj III / 316

وإن تقع عمرته فى أشهر الحجّ من سنته أى الحج، فلو وقعت قبل أشهر الحج وأتمّها فيها لم يلزمه دم لعدم جمعه بينهما فى وقت الحجّ.

Terjemah :
Jika terjadi umroh di bulan-bulan haji pada tahunnya (haji). Seandainya terjadi umroh sebelum bulan haji dan kemudian disempurnakan pada bulan haji, kemudian ia melakukan haji, maka baginya tidak wajib dam (denda) karena ia tidak mengumpulkan keduanya dalam waktu haji

  1. Al Syarqowi I / 465

فلو اعتمر قبل أشهره أو فيها وحجّ فى عام قابل فلا دمَّ عليه لأنّه لم يجمع بينها فى الأولى.

Terjemah :
Jika seseorang berumroh sebelum bulannya atau di dalam bulannya kemudian ia haji pada tahun berikutnya (yang akan datang) maka baginya tidak wajib dam. Karena ia tidak mengumpulkan keduanya di tahun pertama.

  1. Busyrol Karim 109

فإن أحرم بها فى غير أشهره ثمّ أتمّها ولو فى أشهره ثمّ حجّ فى سنته لم يلزمه دمّ لإنّه لم يجمع بينهما وقت الحجّ فأشبه المفرد.

Terjemah :
Jika seseorang ihom umroh pada selain bulan haji, kemudian ia menyempurnakannya walau pada bula haji, kemudian ia haji pada tahun haji, maka ia tidak wajib membayar dam, karena ia tidak mengumpulkan antara keduanya dalam waktu haji, sehingga menyerupai haji ifrod.

  1.  AL Fiqh Alal Madzhabil Arba’ah I / 189

Mas’alah :
Apakah petani cengkeh, tembakau, karet dan lain-lain tanaman yang tidak termasuk bahan makanan pokok waktu ikhtiyar itu wajib zakat, karena dianggap barang dagangan ?

Jawab :
Tidak wajib zakat menurut madzhab Imam Syafi’I, kecuali kalau tanah dan bibitnya dari bahan dagangan dan tidak niat diperdagangan. Akan tetapi kalau kita bertaqlid pada Madzhab Hanafi, maka wajib zakat secara mutlak.

Dasar pengambilan :
  1. Tuhfatul Muhtaj III / 295

نعم لو كان كلّ من الأرض والبذر الّذى زرع هو فيها أرض تجارة كأن اشترى كلّ منهما بمتاع التّجارة أو بنيّة التّجارة كان منه مال التّجارة تجب الزّكاة بشرطها كما يأتى عن العناب وغيره إلى أن قال وأمّا إذا كان أحدهما للقنية فلا يكون النّابت حينئذ مال التجارة.

Terjemah :
Betul jika sesuatu dari bumi dan biji yang ditanam pada bumi itu untuk berdagang, seperti setiap satu dari keduanya dibeli dengan harta perdagangan maka yang tumbuh darinya menjadi harta perdagangan yang wajib mengeluarkan zakan dengan syarat-syaratnya seperti yang akan datang dari Al Ubbab dan lainnya. Sampai dengan kata-kata: adapun jika salah satu keduanya untuk qinayah (murni bukan untuk dagang) maka segala yang tumbuh bukan dinamakan perdagangan

  1. Al Muhadzab I / 159

ولا يصير العرض للتّجارة إلاّ بشرطين أحدهما أن يملكه بعقد يجب فيه العوض كالبيع والاجارة والنّكاح والخلع. والثّانى أن ينوى عند ......أن يتملّكه للتّجارة إنتهى.

Terjemah :
Tidak secara otomatis harta menjadi harta perdagangan kecuali dengan dua syarat :
Satu cara pemilikan dengan aqad (transaksi) yang ada iwad (pengganti) seperti persewaan, jual beli, nikah dan


  1. Al Itsmidul Ainain 48

مسألة: أفاد أيضا أن مذهب أبى حنيفة وجوب الزّكاة فى كلّ ما خرج من الأرض إلاّ حطبا أو قصبا أو حشيشا ولا يعتبر نصابا. وعند.....أحمد فيما يؤكل أو يوزن أو يدّخر للقوت ولا بدّ من النّصاب عند مالك كالشافعى.


KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL SYURIYAH
NU WILAYAH JAWA TIMUR
DI PP ZAINUL HASAN GENGGONG KRAKSAAN
TGL 27 S/D 29 JULI 1984

Mas’alah :
Kalau ada kapal yang punya anak seratus orang muslimin ditugaskan berlaya selama sebelas bulan misalnya. Apakah mereka wajib iqomatul jum’ah di dalam kapal tersebut ? apakah sah ?
Jawab :
Tidak wajib iqomatu jum’ah. Dan apabila melaksanakannya tidak sah dan tidak khilaf (perbedaan pendapat) di antara Imam Madzhab empat.

Dasar pengambilan :
  1. AL Mizan Al Kubro I

ومن ذلك قول الشافعي لا تصحّ الجمعة إلا فى أبنية يستوطنها من تنعقد بهم الجمعة مع قول بعضهم لا تصحّ الجمعة إلاّ فى قرية اتّصلت بيوتها ولها مسجد وسوق مع قول أبى حنيفة إنّّ جمعة لا تصحّ إلاّ فى مصر لهم سلطان.

Terjemah :
Termasuk hal tersebut adalah pendapat Imam Syafi’i yaitu : tidak sah jum’atan kecuali bagi orang yang menetap (berumah tangga) pada suatu bangunan dan dianggap sah mereka untuk memenuhi syarat jum’ah. Juga pendapat sebagaian ulama’ yaitu : tidak sah jum’atan kecuali dala suatu desa yang rumahnya berdekatan dan ada masjid, dan pasar di desa itu. Juga pendapat Abu Hanifah yang mengatakan : seseungguhnya jum’atan tidak sah kecuali di suatu kota yang punya kepala negara.

  1. Hamisy Al Qulyuby I / 672

ولو لم يلازمه أبدا بأن انتقلوا عنه فى الشتاء أو غيره فلا جمعة عليهم جزما ولا تصحّ منهم فى موضعهم.

Terjemah :
Meskipun mereka tidak menetap selamanya, seperti halnya, mereka berpindah dari tempatnya pada waktu musim hujan atau lainnya, maka bagi mereka tidak wajib jum’atan, dan tidak sah mereka melakukan jum’atan di tempat mereka.

  1. Adalah Dien Wal Haj 58

اجتمعت الأئمة على أنّ المسافر لا تجب عليه الجمعة إلاّ إذا نوى الإقامة أربعة أياّم تامّة، وإنّها لا تصحّ إلاّ فى دار الإقامة، وعلى ذلك فلا تصحّ صلاة الجمعة فى الباخرة ولا فى غرفة لأنّهما ليسا بدار الإقامة.

Terjemah :
Telah sepakat beberapa Imam bahwa, musafir (orang yang bepergian) tidak wajib baginya jum’atan. Kecuali bila ia niat bermukim selama empat hari penuh. Dan jum’atannya juga tidak sah, kecuali di daerah pemukiman. Dengan demikian tidak sah jum’atan dilakukan di kapal laut dan di kamar-kamaran, karena keduanya bukan termasuk bagian dari desa pemukiman.

Mas’alah :
Masih hidupkah Nabi Khidlir itu ? dan bagaimana orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidlir ? padahal di dalam Al Qur’an ada ayat :

وما جعلنا لبشر من فلبك الخلد
Jawab :

Tentang masih hidup dan matinya Nabi Khidlir AS terdapat perbedaan pendapat, akan tetapi kebanyakanUlama’ menyatakan masih hidup. Adapun kemungkinan bertemu dengan Nabi Khidlir AS itu bisa saja terjadi.

Dasar pengambilan :
  1. Tafsir Al Khozin III / 209

واختلف العلماء فى أنّ الخضر، أحيّ أم ميّت، وقيل إنّه حيّ وهو قول الأكثرين من العلماء، وهو متفق عليه عند مشايخ الصوفية وأهل الصلاح والمعرفة. والحكاية فى رؤيته والإجتماع به و وجوده فى المواضع الشريفة و مواطن الخير أكثر من أن تحصى.

Terjemah :
Terjadi perselisihan di antar para Ulama’ apakah Nabi Khidlir masih hidup atau sudah mati ? dikatakan bahwa Nabi Khidlir masih hidup dan itu perkataan / pendapat kebanyakan para Ulama’. Dan itu merupakan kesepakatan bagi para guru-guru sufi (ahli tasawuf) dan ahli kebaikan serta ahli ma’rifat. Dan juga cerita tentang terlihatnya Nabi Khidlir dan berkumpulnya. Dan masih nampak pada tempat-tempat yang mulya dan tempat-tempat baik yang banyak tidak terhitung.

  1. Tafsir Munir II / 370

(وما جعلنا لبشر من قبلك الخلد) البقاء فى الدنيا (أفإن مُتّ) يا أشرف الخلق (فهم خالدون) فى الدنيا أي إن مُتّ أنت يا خاطم الرسل أفى يبقى هؤلاء حتّى سيموت بموتك. ومثاله ما فى الصاوى ج 1 ص.
Terjemah :
Dan saya tidak menjadikan manusia sebelum kamu (Muhammad) yang kekal di dunia, adakalanya kamu mati, wahai lebih mulya makhluk, mereka adalah kekal di dunia, artinya : jika kamu mati wahai Rasul terakhir apakah mereka kekal ? sampai mau mati dengan matimu.


Mas’alah :
Bagaimanakah hukumnya laki-laki yang memakai sarung tenun yang seratus persen terdiri dari benang sutera. Dan bagaimana pula sarung lelaki tetapi dipakai oleh wanita. Apakah tidak termasuk tasyabuh bir rijal (menyerupai orang laki-laki) ?

Jawab :
Orang laki-laki memakai sarung tenun (harir) seratus persen hukumnya haram. Orang perempuan memakai sarung laki-laki tidak sebaliknya, jika di daerah yang biasanya tidak khusus bagi laki-laki atau perempuan dan tidak sampai berlagak laki-laki atau perempuan. Tidak haram.

Dasar pengambilan :
  1. Mughni Al Muhtaj I / 206

(فصل) يجكم على الرجل استعمال الحرير بفراش وغيره إلى عن قال: ويحرم المركّب من إبريسم وغيره إن زاد ذلك الإبريسم، ويحلّ عكسه، وكذا إن استوايا فى الأصحّ.

Terjemah :
(fasal) Haram bagi laki-laki memaki sutera harir untuk alas atau selainnya … s/d … haram campuran sutera ibrosim dan lainnya jika sutera ibrolsim lebih banyak, jika sebaliknya (sutera ibrosim lebih sedikit) maka boleh. Begitu juga boleh bila sama menurut yang ashoh.

  1. Fathu Al Wahab I / 82

حرم على الرجل استعمال حرير ولو قزّا

Terjemah :
Haram bagi lelaki memakai sutera harir meskipun berupa sutera quz

  1. Fathu Al Bari XII / 452

فأمّا هيئة اللباس فتختلف باختلاف عادة كلّ ولد، فربّ قوم لا يفترق زيّ نسائهم من رجالهم فى اللبس لكن تمتاز النساء بالإحتجاب والإستتار.

Terjemah :
Adapun kondisi / tingkah pakaian berbeda dengan berbedanya kebiasaan setiap negara. Dan banyak sekali orang yang tidak membedakan pakaian / hiasan perempuan dari laki-lakinya dalam berpakaian, tetapi para wanita sama dibedakan dengan cara menutup atau bersembunyi.


Mas’alah :
Al Ismu Al A’dzom yang sengaja ditulis dengan kalam ajam (selain arab) di dinding-dinding masjid, mushola, kain-kain taplak meja, sapu tangan, dan keset-keset kaki. Bagaimana hukumnya ? demikian pula plastik dan pembungkus-pembungkus makanan yang bertuliskan lafadz Al Jalalah. Apakah hal semacam itu termasuk menulis lafadz Al Jalalah tidak pada tempatnya ? dan bagaimana hukumnya ?

Jawab :
Al Ismu Al A’dzom yang ditulis dengan kalam ajam (Al Khotul ajam) di dinding-dinding masjid, kain-kain, itu boleh akan tetapi makruh, kalau mengandung unsur ihanah.

Dasar pengambilan :
  1. I’anatu Al Tholibin I / 69

(قوله: ومدّ الرّجل للمصحف ما لم يكن على مرتفع) بالرفع عطف على تمكين أيضا، أي ويحرم مدّ الرجل لما فيه من الإزدراء به. وقال فى المغنى: ويحرم الوضع على فراس أو خشب نوقش بالقرآن كما فى الأنوار (جز 1 ص: 33) أو بشيئ من أسمائه تعالى.

Terjemah :
(dan memanjangkan kaki ke arah mushaf, selama mushaf tidak berada pada tempat yang tinggi). Artinya : haram memanjangkan kaki ke arah Al Qur’an (mushaf) karena hal itu ada unsur merendahkan Al Qur’an. Dalam kitab Nughni dikatakan : haram menginjak alas (kambal) atau kayu papan yang diukir dengan Al Qur’an seperti keterangan dalam kitab Al Anwar, jilid 1 hal 33 atau diukir dengan sesuatu dari Asma, Allah SWT.

  1. Al Iqna’ I / 95

ويكره كتب القرآن على حائط ولو لمسجد وسياب وطعام ونحو ذلك ويحرم المشي على فراش أو خشب نوقش بشيئ من القرآن.

Terjemah :
Makruh menulis Al Qur’an di tembok walaupun tembok masjid, pakaian dan makanan serta sesamanya. Dan haram berjalan pada alas (lemek) atau papan yang diukir dengan sesuatu (lafadz) Al Qur’an.

  1. Ahkamu Al Fuqoha’ III / 64

KEPUTUSAN BAHTSU AL MASAIL SYURIYAH
NU WILAYAH JAWA TIMUR
DI PP MAMBA’U AL MAARIF DENANYAR JOMBANG
TGL 7 – 8 ROJAB 1405 / 29 – 30 MARET 1985

Mas’alah :
  1. Bolehkah dalam aqad pinjam (hutang) mensyaratkan persyaratan dikaitkan dengan jangka waktu pinjaman, sekedar untuk menyesuaikan dengan nilai mata uang, agar masing-masing pihak (yang hutang dan yang menghutangi) tidak merasa dirugikan >
  2. Kalau seseorang hutang dari orang lain berupa mata uang dolar misalnya dan membayarnya dengan uang rupiah, kurs manakah yang dipakai, kurs pada saat berhutang ataukah kurs pada saat membayarnya ?

Jawab :
  1. Perjanjian itu boleh, sedangkan syaratnya mukghah (tidak mempengaruhi hukum).
  2. Karena ternyata nilai mata uang itu berubah-ubah, maka ada perbedaan pendapat di antara para Ulama’ :
    1. Apabila nilai mata uang itu tetap (tidak merosot) maka harus dikembalikan sejumlah hutangnya.
    2. Apabila nilainya merosot, maka harus dikembalikan nilai hutangnya waktu membayarnya.

Dasar pengambilan :
  1. Fathu Al Wahab I / 192

أو شرط أن يردّ أنقص قدرا أو صفة كردّ مكسّر عن صحيح أن يقرضه غيره أجلا بلا غرض صحيح أو به والمقترض غير مليئ لغا الشرط فقط لا العقد لأنّ ما جرّه من المنفعة ليس للمقرض بل للمقترض أو لهما والمقترض مكسر والعقد عقد عرفاق و وعده وعدا حسنا.

Terjemah :
Atau orang yang hutang mensyaratkan untuk mengembalikan (benda) yang lebih rendah kualitasnya (kadar atau sifatnya) seperti mengembalikan benda yang utuh. Atau (yang dihutangi) menghutangkan kepada peminjam terhadap selain qordlu (aqad hutang). Atau menghutangi dengan jangka waktu tanpa ada tujuan yang sah, atau ada tujuan yang sah tetapi penghutang tidak mampu (tidak kaya pada wajtu yang ditentukan). Maka hanya syaratnya yang mulghoh 9tidak terpakai). Nukan aqadnya (transaksinya sah). Karena sesuatu yang mengambil keuntungan dalam transaksi tersebut, buka untuk menghutangi, tetapi untuk penghutang. Atau (manfaat) kembali kepada keduanya (penghutang dan yang dihutangi), tetapi penghutangnya miskin. Transaksinya dinamakan transaksi pemberian kemanfaatan, seakan-akan orang yang dihutangi menambah dalam memberikan kemanfaatan, dan janjinya dinamakan janji yang baik.

  1. Bujairomi Ala Fathi Al Wahab II / 355

ومثال نقد الفلوس الجديد وقد عمّت البلوى فى الديار المصرية فى غالب الأزمنة فحيث كان لذلك قيمة أي غير تافهة ردّ مثله والارد قيمته باعتبار أقرب وقت إلى وقت المطالبة له فيه قيمة.

Terjemah :
Disamakan dengan NUQUD aialah FULUS (uang logam) yang baru. Dan telah umum kondisi di daerah Misriyah dalam umumnya masa (zaman). Sekira hal tersebut ada nilainya, artinya tidak berubah, maka supaya dikembalikan sebesar nilainya. Dengan memperhitungkan lebih dekat-dekatnya waktu, sampai waktunya menagih janji bagi penghutang dalam mengembalikan senilai hutangnya.

  1. Tarsihu Al Mustarsyidin 233

ويجب على المقترض ردّ المثل فى المثلى وهو النقد والحبوب ولو نقدا أبطله السلطان لأنّه أقرب إليّ حقّه وردّ المثلي سورة فى المتقوّم وهو الحيوان والثياب والجواهر.


Terjemah :
Wajib bagi orang yang hutang MISLY (benda yang ada sesamanya) untuk mengembalikan ALMISLU (benda yang sama) yaitu : nuqud,, biji-bijian, meskipun berupa nuqud yang sudah direvisi oleh penguasa negara (sulton), karena hal tersebut lebih mengarah kepada haknya. Dan wajib mengembalikan ALMISLI SUROTAN (sesamanya bentuk) pada sesuatu yang dihitung dengan nilai, yaitu hewan, pakaian dan perhiasan.

Mas’alah :
Kalau terjadi orang yang berpendirian : Hasib wajib mengamalkan hisabnya dalam melakukan ibadah ternyata hitungannya mengenai waktu wukuf tidak sama dengan apa yang sudah ditetapkan oleh pemerintah : “Al Mamlukatu ‘Arobiyah Assa’udiyah” (misalnya menurut hitungan hisabnya, waktu wukuf yang ditetapkan pemerintah Saudi itu jatuh tanggal 10 Dzulhijjah) tetapi karena sudah menjadi ketetapan pemerintah, terpaksa dia ikut melaksanakan wukuf, meskipun dalam hati dia tetap berkeyakinan bahwa hari wukuf itu adalah 10 Dzulhijjah, dahkah ibadah hajinya ?

Jawab :
Sah ibadah hajinya orang tersebut walaupun keyakinan hisabnya bertentangan dengan pemerintah Saudi Arabia yang berpedoman rukyat.

Dasar pengambilan :
1.      Bughyatu Al Mustarsydin 110

نعم إن عارض الحساب الرؤية فالعمل عليها لا عليه كل قول.

Terjemah :
Betul … Apabila hisab bertentangan dengan rukyat maka yang dipakai adalah rukyat, bukan hisab, menurut semua pendapat

2.      Hasyiyah Al Idhoh hal 153

وله تردّد طويل فيما إذا ظنّ بعض الحجّاج صدق الشهود هل له اعتياده أو يلزمه كما فى رمضان، وفيما لو أخبره بالرؤية من يعتقد صدقه وفيما لو عرف الوقت بمقتضى الحساب وفيما لو رأى الهلال خارج مكة ثمّ قدم فوجد أهلها رأوه على خلاف رؤيته والذى يظهر لي فى ذلك.....فى غير الاخيرة مخيّر بين أن يعمل بمقتضى ظنّه وبين أن يخيف مع الناس لأنّه على فرض الغلط يجزئ هنا بخلاف رمضان.

Terjemah :
Baginya ada keragu-raguan yang panjang dalam suatu masalah, ketika jama’ah haji menyangga atas kejujuran saksi, apakah baginya (sebagian jama’ah haji) diperbolehkan berpegangan kepada (saksi) atau diharuskan? Seperti dalam bulan puasa?. Dan pula (dalam masalah) bila ada orang yang diyakini kejujurannya mengabarkan kepadanya (sebagian jama’ah haji) tentang rukyatul hilal. Dan (dlam masalah) jika dirinya (sebagaian jama’ah haji) mengetahui waktu sesuai dengan hisab. Dan (dalam masalah) jika dirinya melihat hilal di luar mekah, kemudian ia datang ke mekah menemukan penduduk mekah melihat hilal bertentangan dengan rukyat dirinya. Maka menurut pendapat yang jelas bagi saya (mushonif) dalam masalah-masalah tersebut di atas, sesungguhnya bagi dirinya (sebagaian jama’ah haji), pada selain masalah yang terakhir diperbolehkan memilih antara mengikuti persangkaan yang ada pada dirinya, atau berorientasi pada manusia (selain dirinya). Karena dirinya dalam masalah ini berada di posisi yang salah, lain halnya dengan masalah puasa bulan Ramadhan.

Mas’alah :
Orang yang berternak ikan bandeng dengan tujuan setelah tiba waktu panen ikan tersebut, ikan-ikan akan diambil dan dijual, hasil penjualan akan dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari lazimnya orang berumah tangga. Setelah sampau delapan bulan sejak berternak, maka ikan-ikannya pun diambil dan dijual semuanya. Hasil penjualan mencapai uang senialai setengah kilo gram emas dan dibelanjakan untuk kebutuhan hidup, sisanya senilai 50 gram emas dibelikan bibit bandeng untuk diternakkan lagi dengan tujuan yang seudah-sudah.









Share your views...

0 Respones to "bahsul masail PB NU lengkap"

Poskan Komentar

 

© 2013 Masjid Bunut Najaatut Taaibiin All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by